Terkadang, orang mengira bahwa kau bahagia. Dan kau berusaha meng-aminkan.
Padahal, kau hanya merasa bahagia ketika sedang bersama teman-teman, ketika kau dan mereka saling melempar lelucon yang membuat kalian sampai menutup mulut karena tertawa dengan lelucon yang baru saja dibuat oleh seseorang.
Kau selalu menjadi yang paling antusias menceritakan hal-hal absurd pada kawanmu. Hingga mereka menganggap bahwa kau adalah seorang yang periang, yang dipenuhi energi positif, dan yang selalu bahagia.
Padahal, disaat hari berubah menjadi malam dan disaat kau sendiri, senyum riangmu berubah menjadi masam. Tawamu berubah jadi kesedihan yang tak dapat dijelaskan. Kau berbaring di tempat tidurmu, merebahkan diri dan memikirkan semua hal yang ingin kau katakan. Semua hal yang harus kau akui meski hanya dengan pena, kertas, dan pikiran.
Kau bertengkar dan marah dengan pikiranmu sendiri. Memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi. Membayangkan semua skenario terburuk yang selalu menghantui otakmu. Menangis ketika mengingat sesuatu yang menyedihkan di masa lalu dan kemudian tertawa ketika tidak sengaja melihat postingan lucu di layar ponselmu.
Kau benci kesendirianmu. Kau benci aktivitasmu. Kau benci setiap kali kau akan tidur. Karena seketika kau merasa kepalamu begitu sesak dan dipenuhi pemikiran-pemikiran gila.
Kau benci keramaian tapi tak suka sendirian. Kau lelah berinteraksi dengan orang tapi kau ingin berbagi isi pikiran.
Kadang kau tiba-tiba senang dan kemudian menjadi sedih di waktu yang bersamaan. Kau bisa ramah namun juga jadi pemalu. Kau bisa menjadi yang paling ribut dan bisa menjadi yang paling pendiam.
Hingga sekarang kau kebingungan, dan kau merasa kosong. Jadi, apakah kau bahagia?
