Langsung ke konten utama

Ikhlas Itu Sulit


Untuk sepasang raga yang saat ini masih berjalan berdampingan, untuk sepasang tangan yang saat ini masih saling bergenggaman, dan untuk sepasang hati yang saat ini masih dipenuhi keyakinan untuk selamanya bertahan; berdoalah, semoga semua berakhir indah, semoga harapan-harapan tidak berujung patah. Namun, bila ternyata tetap bermuara pada pisah, bila ternyata tetap harus menutup kisah, pun berdoalah, semoga sama-sama diberi tabah.
Memang, tak pernah ada yang sederhana dari sebuah kehilangan. Selalu menyisakan banyak tangis, rasa sakit, dan rindu yang begitu pahit, terlebih di saat mengingat semua kenangan yang membuat dada semakin seolah tersayat.
Pernah, ketika dirimu merasa sedih dia yang selalu ada menjadi sudahnya, meredakan air mata hingga dirimu tersenyum dan baik-baik saja.
Ketika dirimu merasa bingung dia yang selalu ada menjadi tempat bercerita, memberikan lega hingga dirimu tak lagi resah.
Ketika dirimu merasa lelah bahkan tanpa diminta, dia yang selalu ada menyediakan pundak untuk dirimu merebah.
Kepadanya, dirimu menganggap dia adalah yang dirimu butuh di kala duniamu runtuh, dia adalah yang dirimu ingin di kala hatimu tak ingin pada yang lain.
Namun, dirimu hanyalah seseorang yang sedang disinggahi keyakinan dia terbaik untukmu, hanyalah seseorang yang sedang diselimuti harapan dia pantas menjadi milikmu, sementara takdir berkata dirimu harus merelakannya.
Meski perasaanmu masih ada, perlu dirimu pahami bahwa dia sudah tak lagi ada. Dia telah melangkah jauh mengikuti jalan yang sudah ditentukan oleh Tuhan. Dia telah bersama seseorang yang dipilihkan oleh Tuhan. Dia telah bertemu hati yang memang ditakdirkan untuknya oleh Tuhan. Dan itu bukanlah dirimu.
Sulit, berat, bahkan seakan tidak mungkin, tetapi yakinlah, dirimu pasti akan sampai pada titik itu walaupun tidak sekarang.
Dia baik untukmu, tapi Tuhan telah menyiapkan yang jauh lebih baik darinya. Dia pantas untukmu, tapi Tuhan telah menyiapkan yang jauh lebih pantas darinya.
Terkadang, Tuhan seakan-akan membuat sesuatu hilang seperti direnggut, padahal sebenarnya ingin digantikan dengan yang lebih patut.
Percayalah, Tuhan tak pernah ingkar. Yang dijanjikan untukmu akan ditepati suatu waktu. Namun yang tidak, akan disadarkan dirimu bahwa kau tak akan bahagia jika memilikinya.

Ikhlaskanlah! Dia telah berbahagia dengan takdir yang ditetapkan oleh Tuhan.

Postingan populer dari blog ini

Sisi Lain Kebahagian

Terkadang, orang mengira bahwa kau bahagia. Dan kau berusaha meng-aminkan. Padahal, kau hanya merasa bahagia ketika sedang bersama teman-teman, ketika kau dan mereka saling melempar lelucon yang membuat kalian sampai menutup mulut karena tertawa dengan lelucon yang baru saja dibuat oleh seseorang.  Kau selalu menjadi yang paling antusias menceritakan hal-hal absurd pada kawanmu. Hingga mereka menganggap bahwa kau adalah seorang yang periang, yang dipenuhi energi positif, dan yang selalu bahagia. Padahal, disaat hari berubah menjadi malam dan disaat kau sendiri, senyum riangmu berubah menjadi masam. Tawamu berubah jadi kesedihan yang tak dapat dijelaskan. Kau berbaring di tempat tidurmu, merebahkan diri dan memikirkan semua hal yang ingin kau katakan. Semua hal yang harus kau akui meski hanya dengan pena, kertas, dan pikiran. Kau bertengkar dan marah dengan pikiranmu sendiri. Memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi. Membayangkan semua skenario terburuk yang selalu menghantui ota...

Bukan Rumah

https://www.deviantart.com/bombshell-claire/art/Broken-Home-751158620 Beberapa anak yang tumbuh dalam keluarga patah, mendefinisikan rumah yang katanya sebagai tempat paling nyaman, aman dan tentram hanyalah sebuah omong kosong. Sebaliknya, bagi mereka yang hampir tiap hari menyaksikan gemelut konflik, percek-cokan, dan kekerasan di dalamnya, menganggap rumah sebagai tempat ramai namun mengerikan. Di dalamnya tersimpan jutaan kehampaan, kesedihan, ketidaknyamanan, serta kegelisahan. Seolah rumah tidak menjalankan fungsinya dengan baik. Ruang keluarga yang normalnya difungsikan sebagai tempat menghabiskan waktu bersama, bercengkrama dan bersenda-gurau antar-anggota keluarga dengan suguhan-suguhan random pada layar televisi, sayangnya beralih fungsi sebagai tempat saling mengumpat dan beradu argumen dengan nuansa yang mencekam.  Ruang makan yang biasanya dimanfaatkan anggota keluarga untuk berbagi cerita dan hal-hal menyenangkan yang terjadi dihari itu dengan ditemani santapan sederh...

Mengagumi Dalam Diam

Ada satu nama di dalam hatimu, nama yang selalu kau aminkan di setiap sujud terakhirmu, nama yang sangat kau harapkan untuk kau dampingi. Kepada pemilik nama itu, kau mencintai sedalam-dalamnya, namun kau pendam sediam-sediamnya. Kau hanya mampu memperhatikannya dari jarak yang jauh, tanpa berani menyentuh. Ketika dia bahagia, kau pun ikut merasakannya, meski bukan kau yang menjadi alasannya. Ketika dia terluka, kau pun tak pernah rela, meski kau juga begitu pengecut menjadi penawarnya. Saban hari, tak sekalipun kau alpa merindukannya, tak sedikitpun ingatanmu kosong dari bayangnya. Hanya dia, dia, dan dia. Kau mengetahui bahwa dia ialah seseorang yang menyukai puisi, maka setiap kali kau menulis, kau menulis tentangnya. Kau mengetahui bahwa dia ialah seseorang yang menyukai senja, maka setiap kali senja datang menyapa, kau memikirkan wajahnya. Kau mengetahui bahwa dia ialah seseorang yang menyukai hujan, maka setiap kali turun hujan, kau membayangkan kenangan dengannya. Apa yang dirin...