Sebelum akhirnya dirimu dipaksa berhenti mengharapkannya, sebelum akhirnya kau dipaksa memindahkan haluan juangmu dan sebelum akhirnya kau dipaksa merelakan seluruhnya, pernah ada sepotong kalimat yang kau ucapkan ketika dia berjalan memunggungimu, ketika kau melepaskannya dengan segala keterpaksaan, dulu.
Di hidupmu, dia pernah menjadi alasan kau menengadahkan tangan lebih tinggi dan bersujud lebih lama karena begitu berharap agar Tuhan mempersatukan kalian. Dia pernah menjadi alasanmu berusaha lebih giat dan berjuang lebih keras karena begitu ingin menjadi cukup di hadapannya. Dia pernah menjadi alasanmu tak peduli pada air matamu sendiri karena begitu ingin melihatnya tersenyum.
Tapi, dia tak pernah memedulikanmu.
Dia terlalu sibuk menyusun rencana untuk membersamai seseorang yang jelas-jelas mengabaikannya sekarang. Dia terlalu kencang berlari mengejar seseorang yang sekarang sudah tak ingin didapatkan olehnya. Dia terlalu erat berpegangan pada tangan seseorang yang bahkan sekarang sudah tak sudi memberikan dia genggaman.
Saat kau berdoa menyebut namanya, dia mengaminkan nama orang itu. Saat kau berjuang untuknya, dia berjuang untuk orang itu. Saat kau berusaha membahagiakannya, dia berusaha membahagiakan orang itu.
Benar, setiap orang memang berhak mengejar seseorang yang dianggap menjadi sumber bahagianya. Termasuk kau. Saat itu kau juga bersikeras mengejarnya karena menganggap dia adalah sumber bahagiamu. Namun, kau memilih berhenti karena sadar orang yang kau kejar ternyata mengejar orang lain.
Hingga tiba suatu masa, seseorang yang dia kejar telah dia dapatkan, namun perlahan seseorang itu berlari meninggalkannya, sampai pada akhirnya dia diketepikan dan diasingkan. Kau menyuruhnya memutar kembali ingatannya ke masa itu; masa ketika hal serupa dia lakukan padamu.
Dia terlambat sadar bahwa betapa pernah ada kau yang selalu ingin bersamanya, namun dia memilih pergi.
Sekarang, dia datang kembali padamu dengan membawa hati yang sudah dibuat remuk oleh orang itu. Dia memintamu kembali, namun sayang hadirnya sudah tak kau butuhkan lagi. Sebab kau sudah benar-benar pulih.
Karena kau sudah benar-benar bahagia sekarang. Kau sudah berdamai dengan luka yang pernah dia goreskan. Kau sudah menemukan ketenangan dengan kesendirian, setelah begitu lelah mengejarnya yang bahkan tak pernah menengokmu.
Terima kasih, terima kasih atas keputusanmu meninggalkanku. Terima kasih atas pilihanmu tak memilihku. Dan maaf bila aku harus membiarkanmu memeluk lukamu sendiri, seperti yang kulakukan saat kau pergi dulu.
Semoga kau cepat menemukan senyummu yang hilang, semoga bahagiamu segera datang. Aku mendoakanmu.
Ucapmu dalam hati.
