Langsung ke konten utama

Mengejar Untuk Berhenti

 

Sebelum akhirnya dirimu dipaksa berhenti mengharapkannya, sebelum akhirnya kau dipaksa memindahkan haluan juangmu dan sebelum akhirnya kau dipaksa merelakan seluruhnya, pernah ada sepotong kalimat yang kau ucapkan ketika dia berjalan memunggungimu, ketika kau melepaskannya dengan segala keterpaksaan, dulu. 

Di hidupmu, dia pernah menjadi alasan kau menengadahkan tangan lebih tinggi dan bersujud lebih lama karena begitu berharap agar Tuhan mempersatukan kalian. Dia pernah menjadi alasanmu berusaha lebih giat dan berjuang lebih keras karena begitu ingin menjadi cukup di hadapannya. Dia pernah menjadi alasanmu tak peduli pada air matamu sendiri karena begitu ingin melihatnya tersenyum.

Tapi, dia tak pernah memedulikanmu.

Dia terlalu sibuk menyusun rencana untuk membersamai seseorang yang jelas-jelas mengabaikannya sekarang. Dia terlalu kencang berlari mengejar seseorang yang sekarang sudah tak ingin didapatkan olehnya. Dia terlalu erat berpegangan pada tangan seseorang yang bahkan sekarang sudah tak sudi memberikan dia genggaman.

Saat kau berdoa menyebut namanya, dia mengaminkan nama orang itu. Saat kau berjuang untuknya, dia berjuang untuk orang itu. Saat kau berusaha membahagiakannya, dia berusaha membahagiakan orang itu.

Benar, setiap orang memang berhak mengejar seseorang yang dianggap menjadi sumber bahagianya. Termasuk kau. Saat itu kau juga bersikeras mengejarnya karena menganggap dia adalah sumber bahagiamu. Namun, kau memilih berhenti karena sadar orang yang kau kejar ternyata mengejar orang lain.

Hingga tiba suatu masa, seseorang yang dia kejar telah dia dapatkan, namun perlahan seseorang itu berlari meninggalkannya, sampai pada akhirnya dia diketepikan dan diasingkan. Kau menyuruhnya memutar kembali ingatannya ke masa itu; masa ketika hal serupa dia lakukan padamu. 

Dia terlambat sadar bahwa betapa pernah ada kau yang selalu ingin bersamanya, namun dia memilih pergi.

Sekarang, dia datang kembali padamu dengan membawa hati yang sudah dibuat remuk oleh orang itu. Dia memintamu kembali, namun sayang hadirnya sudah tak kau butuhkan lagi. Sebab kau sudah benar-benar pulih.

Karena kau sudah benar-benar bahagia sekarang. Kau sudah berdamai dengan luka yang pernah dia goreskan. Kau sudah menemukan ketenangan dengan kesendirian, setelah begitu lelah mengejarnya yang bahkan tak pernah menengokmu.

Terima kasih, terima kasih atas keputusanmu meninggalkanku. Terima kasih atas pilihanmu tak memilihku. Dan maaf bila aku harus membiarkanmu memeluk lukamu sendiri, seperti yang kulakukan saat kau pergi dulu.
Semoga kau cepat menemukan senyummu yang hilang, semoga bahagiamu segera datang. Aku mendoakanmu.

Ucapmu dalam hati.

Postingan populer dari blog ini

Sisi Lain Kebahagian

Terkadang, orang mengira bahwa kau bahagia. Dan kau berusaha meng-aminkan. Padahal, kau hanya merasa bahagia ketika sedang bersama teman-teman, ketika kau dan mereka saling melempar lelucon yang membuat kalian sampai menutup mulut karena tertawa dengan lelucon yang baru saja dibuat oleh seseorang.  Kau selalu menjadi yang paling antusias menceritakan hal-hal absurd pada kawanmu. Hingga mereka menganggap bahwa kau adalah seorang yang periang, yang dipenuhi energi positif, dan yang selalu bahagia. Padahal, disaat hari berubah menjadi malam dan disaat kau sendiri, senyum riangmu berubah menjadi masam. Tawamu berubah jadi kesedihan yang tak dapat dijelaskan. Kau berbaring di tempat tidurmu, merebahkan diri dan memikirkan semua hal yang ingin kau katakan. Semua hal yang harus kau akui meski hanya dengan pena, kertas, dan pikiran. Kau bertengkar dan marah dengan pikiranmu sendiri. Memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi. Membayangkan semua skenario terburuk yang selalu menghantui ota...

Bukan Rumah

https://www.deviantart.com/bombshell-claire/art/Broken-Home-751158620 Beberapa anak yang tumbuh dalam keluarga patah, mendefinisikan rumah yang katanya sebagai tempat paling nyaman, aman dan tentram hanyalah sebuah omong kosong. Sebaliknya, bagi mereka yang hampir tiap hari menyaksikan gemelut konflik, percek-cokan, dan kekerasan di dalamnya, menganggap rumah sebagai tempat ramai namun mengerikan. Di dalamnya tersimpan jutaan kehampaan, kesedihan, ketidaknyamanan, serta kegelisahan. Seolah rumah tidak menjalankan fungsinya dengan baik. Ruang keluarga yang normalnya difungsikan sebagai tempat menghabiskan waktu bersama, bercengkrama dan bersenda-gurau antar-anggota keluarga dengan suguhan-suguhan random pada layar televisi, sayangnya beralih fungsi sebagai tempat saling mengumpat dan beradu argumen dengan nuansa yang mencekam.  Ruang makan yang biasanya dimanfaatkan anggota keluarga untuk berbagi cerita dan hal-hal menyenangkan yang terjadi dihari itu dengan ditemani santapan sederh...

Mengagumi Dalam Diam

Ada satu nama di dalam hatimu, nama yang selalu kau aminkan di setiap sujud terakhirmu, nama yang sangat kau harapkan untuk kau dampingi. Kepada pemilik nama itu, kau mencintai sedalam-dalamnya, namun kau pendam sediam-sediamnya. Kau hanya mampu memperhatikannya dari jarak yang jauh, tanpa berani menyentuh. Ketika dia bahagia, kau pun ikut merasakannya, meski bukan kau yang menjadi alasannya. Ketika dia terluka, kau pun tak pernah rela, meski kau juga begitu pengecut menjadi penawarnya. Saban hari, tak sekalipun kau alpa merindukannya, tak sedikitpun ingatanmu kosong dari bayangnya. Hanya dia, dia, dan dia. Kau mengetahui bahwa dia ialah seseorang yang menyukai puisi, maka setiap kali kau menulis, kau menulis tentangnya. Kau mengetahui bahwa dia ialah seseorang yang menyukai senja, maka setiap kali senja datang menyapa, kau memikirkan wajahnya. Kau mengetahui bahwa dia ialah seseorang yang menyukai hujan, maka setiap kali turun hujan, kau membayangkan kenangan dengannya. Apa yang dirin...