Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2022

Mungkin Kau Juga Pernah...

Pernah di dalam hatimu dipenuhi keyakinan bahwa seseorang yang selama ini bersamamu dan mendampingimu adalah takdir-Nya untuk hidupmu. Pernah juga kau begitu bersyukur telah dipertemukan dengannya yang kau anggap begitu baik, sampai kau merasa bahwa dia adalah seseorang berbeda yang bisa mengobati luka lamamu. Bahkan kau juga pernah segiat itu memantaskan diri demi untuk duduk bersanding di sebelahnya kelak dalam akad yang penuh harap dan semoga. Hingga kau pernah memohon doa di setiap sujud terakhirmu, agar apa yang kau aminkan adalah apa yang Tuhan izinkan untukmu, yaitu dirinya. Namun nyatanya, harapanmu yang penuh harap sepertinya tidak diharapkan olehnya. Seolah hanya di dalam hatimu saja keyakinan itu penuh, sedang di dalam hatinya terisi keraguan. Hanya kau yang bersyukur atas pertemuan dengannya, sedang dia tak merasakan apapun. Hanya kau yang berusaha memantaskan diri untuknya, sedangkan baginya bukan kau yang pantas mendampinginya. Dan hanya kau yang memohon doa di setiap suj...

Untukmu Lelaki Asing yang Memenuhi Kepalaku

Hai apa kabar? Bagaimana? Masihkah pantas jika aku berucap apa kabar? Meskipun hati terkadang berusaha keras untuk enggan menyapa, karena takut menimbulkan basa-basi yang berujung cerita. Walau sebenarnya lebih takut jika sapaanku kau anggap hanya angin lewat semata. Mungkin kau sudah sangat jauh, tetapi semoga saja tanpa sengaja kau membaca tulisan ini. Halo! Sudah sangat lama kita tidak saling menyapa. Setelah kau memutuskan untuk tidak membalas pesan terakhirku saat itu, akhirnya sampai detik ini aku  tidak berani lagi untuk mengirimimu pesan. Apakah kau tahu sudah berapa paragraf kata yang kurangkai untuk sekadar menyapamu lewat pesan yang ujung-ujungnya tidak pernah kukirim? Bagaimana rasanya setelah kembali asing? Kurasa kau baik-baik saja. Dan sepertinya, kau sedang berbahagia dengan seseorang yang baru di sana. Entahlah, mungkin hanya firasatku saja. Semoga kau selamanya tetap membaik. Aku di sini juga sedang berusaha untuk tetap terlihat baik walau perasaanku masih tertari...

Alasan Sebuah Kepergian

Kenapa aku memilih pergi? Barangkali kau perlu sekali saja menjadi aku. Merasakan bagaimana perihnya menyayangi seseorang yang rasa sayangnya entah masih ada untukku atau tidak. Merasakan bagaimana merindukan seseorang yang rindunya entah masih milikku atau tidak. Merasakan bagaimana mendoakan seseorang yang doanya entah masih berisi pinta agar dibersamakan denganku atau tidak. Dan, yang paling menyakitkan dari semuanya ialah, merasakan bagaimana setiap kali aku melihat kita, aku melihat seolah hanya diriku sendiri yang tetap cinta, sedangkan kau sudah tidak. Karena nyatanya, cintamu tidaklah senyata itu. Karena buktinya, cerita tentang kita hanyalah milikku seorang. Maka, apakah ada yang lebih baik dari sebuah perpisahan? Apakah ada yang lebih baik dari membiarkan aku berjalan menuju keikhlasan, dan membiarkan kau berjalan menuju kebahagiaan? Apakah ada? Aku sempat berpikir untuk mengucapkan terimakasih telah menjadikanku sebagai tempatmu bermain. Walau setelahnya kita kemb...

Dan Lagi...

Setelah pernah begitu patah, kau memutuskan untuk tidak tertarik lagi mencintai siapa pun. Mungkin, karena luka lamamu belum sepenuhnya pulih atau mungkin juga karena kau masih terlalu penakut untuk memilih.  Padahal di hidupmu, banyak sekali yang datang menawarkan hati, tapi pintu yang dulu pernah kau buka masih tertutup serapat-rapatnya, tangan yang dulu pernah begitu lapang menerima masih menggenggam erat masa lalunya.  Hingga akhirnya dia datang menjanjikan tenang, menjanjikan sembuh yang paling kau butuh, menjanjikan harapan yang paling kau harap-harapkan. Membuat kau percaya, bahwa bersamanya mungkin kau akan kembali menemukan bahagia. Namun, terkadang sakit memang tidak hanya sekali, patah hati memang kadang perlu berkali-kali. Setelah se-semoga itu dia dalam doamu, setelah seyakin itu dia dalam aminmu, tiba-tiba semesta berkata lain; Kau harus kembali robek oleh seseorang yang kau percaya mampu menjahit luka-lukamu, kau harus kembali patah oleh seseorang yang kau angga...