Kenapa aku memilih pergi?
Barangkali kau perlu sekali saja menjadi aku.
Merasakan bagaimana perihnya menyayangi seseorang yang rasa sayangnya entah masih ada untukku atau tidak.
Merasakan bagaimana merindukan seseorang yang rindunya entah masih milikku atau tidak.
Merasakan bagaimana mendoakan seseorang yang doanya entah masih berisi pinta agar dibersamakan denganku atau tidak.
Dan, yang paling menyakitkan dari semuanya ialah, merasakan bagaimana setiap kali aku melihat kita, aku melihat seolah hanya diriku sendiri yang tetap cinta, sedangkan kau sudah tidak.
Karena nyatanya, cintamu tidaklah senyata itu. Karena buktinya, cerita tentang kita hanyalah milikku seorang.
Maka, apakah ada yang lebih baik dari sebuah perpisahan?
Apakah ada yang lebih baik dari membiarkan aku berjalan menuju keikhlasan, dan membiarkan kau berjalan menuju kebahagiaan?
Apakah ada?
Aku sempat berpikir untuk mengucapkan terimakasih telah menjadikanku sebagai tempatmu bermain. Walau setelahnya kita kembali terpisahkan oleh jarak. Walau kau pernah hadir disampingku, memberi makna rasa nyaman yang sederhana. Kemudian pergi, mengenalkanku pada rasa rindu yang menggebu.
Kupikir jarak yang hadir tak membuat cintamu surut. Kupikir komunikasi yang seadanya mampu menjadi penawar rindumu. Namun sepertinya itu hanya berlaku untukku, tidak denganmu.
Maka, tentang kalimat tanya pada paragraf pertama tulisan ini, jawabannya adalah "Karena aku telah terganti".
