Langsung ke konten utama

Alasan Sebuah Kepergian

Kenapa aku memilih pergi?

Barangkali kau perlu sekali saja menjadi aku.

Merasakan bagaimana perihnya menyayangi seseorang yang rasa sayangnya entah masih ada untukku atau tidak.
Merasakan bagaimana merindukan seseorang yang rindunya entah masih milikku atau tidak.
Merasakan bagaimana mendoakan seseorang yang doanya entah masih berisi pinta agar dibersamakan denganku atau tidak.

Dan, yang paling menyakitkan dari semuanya ialah, merasakan bagaimana setiap kali aku melihat kita, aku melihat seolah hanya diriku sendiri yang tetap cinta, sedangkan kau sudah tidak.

Karena nyatanya, cintamu tidaklah senyata itu. Karena buktinya, cerita tentang kita hanyalah milikku seorang.

Maka, apakah ada yang lebih baik dari sebuah perpisahan?
Apakah ada yang lebih baik dari membiarkan aku berjalan menuju keikhlasan, dan membiarkan kau berjalan menuju kebahagiaan?
Apakah ada?

Aku sempat berpikir untuk mengucapkan terimakasih telah menjadikanku sebagai tempatmu bermain. Walau setelahnya kita kembali terpisahkan oleh jarak. Walau kau pernah hadir disampingku, memberi makna rasa nyaman yang sederhana. Kemudian pergi, mengenalkanku pada rasa rindu yang menggebu. 

Kupikir jarak yang hadir tak membuat cintamu surut. Kupikir komunikasi yang seadanya mampu menjadi penawar rindumu. Namun sepertinya itu hanya berlaku untukku, tidak denganmu.

Maka, tentang kalimat tanya pada paragraf pertama tulisan ini, jawabannya adalah "Karena aku telah terganti".

Postingan populer dari blog ini

Sisi Lain Kebahagian

Terkadang, orang mengira bahwa kau bahagia. Dan kau berusaha meng-aminkan. Padahal, kau hanya merasa bahagia ketika sedang bersama teman-teman, ketika kau dan mereka saling melempar lelucon yang membuat kalian sampai menutup mulut karena tertawa dengan lelucon yang baru saja dibuat oleh seseorang.  Kau selalu menjadi yang paling antusias menceritakan hal-hal absurd pada kawanmu. Hingga mereka menganggap bahwa kau adalah seorang yang periang, yang dipenuhi energi positif, dan yang selalu bahagia. Padahal, disaat hari berubah menjadi malam dan disaat kau sendiri, senyum riangmu berubah menjadi masam. Tawamu berubah jadi kesedihan yang tak dapat dijelaskan. Kau berbaring di tempat tidurmu, merebahkan diri dan memikirkan semua hal yang ingin kau katakan. Semua hal yang harus kau akui meski hanya dengan pena, kertas, dan pikiran. Kau bertengkar dan marah dengan pikiranmu sendiri. Memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi. Membayangkan semua skenario terburuk yang selalu menghantui ota...

Bukan Rumah

https://www.deviantart.com/bombshell-claire/art/Broken-Home-751158620 Beberapa anak yang tumbuh dalam keluarga patah, mendefinisikan rumah yang katanya sebagai tempat paling nyaman, aman dan tentram hanyalah sebuah omong kosong. Sebaliknya, bagi mereka yang hampir tiap hari menyaksikan gemelut konflik, percek-cokan, dan kekerasan di dalamnya, menganggap rumah sebagai tempat ramai namun mengerikan. Di dalamnya tersimpan jutaan kehampaan, kesedihan, ketidaknyamanan, serta kegelisahan. Seolah rumah tidak menjalankan fungsinya dengan baik. Ruang keluarga yang normalnya difungsikan sebagai tempat menghabiskan waktu bersama, bercengkrama dan bersenda-gurau antar-anggota keluarga dengan suguhan-suguhan random pada layar televisi, sayangnya beralih fungsi sebagai tempat saling mengumpat dan beradu argumen dengan nuansa yang mencekam.  Ruang makan yang biasanya dimanfaatkan anggota keluarga untuk berbagi cerita dan hal-hal menyenangkan yang terjadi dihari itu dengan ditemani santapan sederh...

Mengagumi Dalam Diam

Ada satu nama di dalam hatimu, nama yang selalu kau aminkan di setiap sujud terakhirmu, nama yang sangat kau harapkan untuk kau dampingi. Kepada pemilik nama itu, kau mencintai sedalam-dalamnya, namun kau pendam sediam-sediamnya. Kau hanya mampu memperhatikannya dari jarak yang jauh, tanpa berani menyentuh. Ketika dia bahagia, kau pun ikut merasakannya, meski bukan kau yang menjadi alasannya. Ketika dia terluka, kau pun tak pernah rela, meski kau juga begitu pengecut menjadi penawarnya. Saban hari, tak sekalipun kau alpa merindukannya, tak sedikitpun ingatanmu kosong dari bayangnya. Hanya dia, dia, dan dia. Kau mengetahui bahwa dia ialah seseorang yang menyukai puisi, maka setiap kali kau menulis, kau menulis tentangnya. Kau mengetahui bahwa dia ialah seseorang yang menyukai senja, maka setiap kali senja datang menyapa, kau memikirkan wajahnya. Kau mengetahui bahwa dia ialah seseorang yang menyukai hujan, maka setiap kali turun hujan, kau membayangkan kenangan dengannya. Apa yang dirin...