Bagaimana? Masihkah pantas jika aku berucap apa kabar?
Meskipun hati terkadang berusaha keras untuk enggan menyapa, karena takut menimbulkan basa-basi yang berujung cerita. Walau sebenarnya lebih takut jika sapaanku kau anggap hanya angin lewat semata.
Mungkin kau sudah sangat jauh, tetapi semoga saja tanpa sengaja kau membaca tulisan ini.
Halo! Sudah sangat lama kita tidak saling menyapa. Setelah kau memutuskan untuk tidak membalas pesan terakhirku saat itu, akhirnya sampai detik ini aku tidak berani lagi untuk mengirimimu pesan.
Apakah kau tahu sudah berapa paragraf kata yang kurangkai untuk sekadar menyapamu lewat pesan yang ujung-ujungnya tidak pernah kukirim?
Bagaimana rasanya setelah kembali asing? Kurasa kau baik-baik saja. Dan sepertinya, kau sedang berbahagia dengan seseorang yang baru di sana. Entahlah, mungkin hanya firasatku saja. Semoga kau selamanya tetap membaik. Aku di sini juga sedang berusaha untuk tetap terlihat baik walau perasaanku masih tertarik. Mungkin kau tidak masalah dengan keadaan dimana kita kembali menjadi asing, setelah sebelumnya kita adalah dua orang yang saling.
Mungkin sejak awal memang responku yang terlalu berlebihan, padahal bisa saja kau hanya menjadikanku pelarian, disaat sudah tidak ada lagi pilihan. Aku terlalu terbuai dengan janji-janjimu sampai lupa bahwa berharap pada manusia adalah seni menebar luka. Sayangnya, aku sudah terlanjur menjatuhkan hati, padahal mungkin saja saat itu kau tidak sepenuh hati.
Maaf atas keegoisanku yang memutuskan untuk sedikit menjaga jarak, padahal rasa sayangku sedang di puncak. Walaupun mungkin sebenarnya kau akan tetap biasa saja dan seperti tidak terjadi apapun. Mungkin pula, sejak awal kau memang tidak pernah menganggap apapun atas sesuatu yang sebelumnya telah kita jalani, hingga kau terlihat acuh tak acuh ketika tahu bahwa jarak kita semakin jauh. Dan akhirnya sikapmu saat itu membuat aku sadar, bahwa boleh jadi kau memang tidak seingin itu atas hadirku. Maka kuberilah sedikit jarak, untuk menjaga diriku dari rasa kecewa.
Sekali lagi, maaf.
Maaf kulakukan itu karena terlalu takut. Takut perasaanku semakin dalam, hingga membuatmu merasa tak nyaman. Takut perasaan ini berujung pada obsesi untuk memilikimu dan membuat dirimu merasa tertekan atas keberadaanku. Takut jika kau hanya menjadikanku tempat berteduh dan pergi ketika tak lagi butuh. Takut jika aku hanya kau jadikan pelarianmu dikala suntuk. Takut menetapmu hanyalah upaya untuk menghabiskan jatah penasaranmu. Takut jika perasaanmu tidak benar-benar untukku. Takut kalimat-kalimat manis yang kau ucapkan padaku, kau ucapkan juga pada seseorang yang lain. Nyatanya, kepergianmu membuatku takut.
Sejujurnya, aku bingung. Aku ingin terus bersama, namun di sisi lain aku takut terluka. Aku memberi jarak, bukan karena sudah tak sayang, bukan pula membenci apalagi untuk mengusir. Aku hanya melindungi diri dari rasa kecewa. Karena semakin lama kita bersama, kau semakin banyak mengumbar janji, tanpa niat menepati. Kau berkali-kali menaburkan harapan, yang hanya berakhir jadi angan. Tapi tak mengapa, semoga harapan ini cepat padam.
Mungkin kau sudah sangat jauh, tetapi semoga tanpa sengaja kau membaca tulisan ini.
Tulisan ini kutulis bukan karena aku ingin memintamu kembali, melainkan kutulis hanya untuk kau abaikan. Berbahagialah. Walau sesaat dan berjarak, terima kasih pernah hadir dan menjadi bagian dari cerita hidupku.
Dariku, perempuan yang takut jatuh cinta.
