Langsung ke konten utama

Untukmu Lelaki Asing yang Memenuhi Kepalaku


Hai apa kabar?

Bagaimana? Masihkah pantas jika aku berucap apa kabar?
Meskipun hati terkadang berusaha keras untuk enggan menyapa, karena takut menimbulkan basa-basi yang berujung cerita. Walau sebenarnya lebih takut jika sapaanku kau anggap hanya angin lewat semata.

Mungkin kau sudah sangat jauh, tetapi semoga saja tanpa sengaja kau membaca tulisan ini.

Halo! Sudah sangat lama kita tidak saling menyapa. Setelah kau memutuskan untuk tidak membalas pesan terakhirku saat itu, akhirnya sampai detik ini aku  tidak berani lagi untuk mengirimimu pesan.

Apakah kau tahu sudah berapa paragraf kata yang kurangkai untuk sekadar menyapamu lewat pesan yang ujung-ujungnya tidak pernah kukirim?

Bagaimana rasanya setelah kembali asing? Kurasa kau baik-baik saja. Dan sepertinya, kau sedang berbahagia dengan seseorang yang baru di sana. Entahlah, mungkin hanya firasatku saja. Semoga kau selamanya tetap membaik. Aku di sini juga sedang berusaha untuk tetap terlihat baik walau perasaanku masih tertarik. Mungkin kau tidak masalah dengan keadaan dimana kita kembali menjadi asing, setelah sebelumnya kita adalah dua orang yang saling.

Mungkin sejak awal memang responku yang terlalu berlebihan, padahal bisa saja kau hanya menjadikanku pelarian, disaat sudah tidak ada lagi pilihan. Aku terlalu terbuai dengan janji-janjimu sampai lupa bahwa berharap pada manusia adalah seni menebar luka. Sayangnya, aku sudah terlanjur menjatuhkan hati, padahal mungkin saja saat itu kau tidak sepenuh hati.

Maaf atas keegoisanku yang memutuskan untuk sedikit menjaga jarak, padahal rasa sayangku sedang di puncak. Walaupun mungkin sebenarnya kau akan tetap biasa saja dan seperti tidak terjadi apapun. Mungkin pula, sejak awal kau memang tidak pernah menganggap apapun atas sesuatu yang sebelumnya telah kita jalani, hingga kau terlihat acuh tak acuh ketika tahu bahwa jarak kita semakin jauh. Dan akhirnya sikapmu saat itu membuat aku sadar, bahwa boleh jadi kau memang tidak seingin itu atas hadirku. Maka kuberilah sedikit jarak, untuk menjaga diriku dari rasa kecewa.

Sekali lagi, maaf.

Maaf kulakukan itu karena terlalu takut. Takut perasaanku semakin dalam, hingga membuatmu merasa tak nyaman. Takut perasaan ini berujung pada obsesi untuk memilikimu dan membuat dirimu merasa tertekan atas keberadaanku. Takut jika kau hanya menjadikanku tempat berteduh dan pergi ketika tak lagi butuh. Takut jika aku hanya kau jadikan pelarianmu dikala suntuk. Takut menetapmu hanyalah upaya untuk menghabiskan jatah penasaranmu. Takut jika perasaanmu tidak benar-benar untukku. Takut kalimat-kalimat manis yang kau ucapkan padaku, kau ucapkan juga pada seseorang yang lain. Nyatanya, kepergianmu membuatku takut. 

Sejujurnya, aku bingung. Aku ingin terus bersama, namun di sisi lain aku takut terluka. Aku memberi jarak, bukan karena sudah tak sayang, bukan pula membenci apalagi untuk mengusir. Aku hanya melindungi diri dari rasa kecewa. Karena semakin lama kita bersama, kau semakin banyak mengumbar janji, tanpa niat menepati. Kau berkali-kali menaburkan harapan, yang hanya berakhir jadi angan. Tapi tak mengapa, semoga harapan ini cepat padam.

Mungkin kau sudah sangat jauh, tetapi semoga tanpa sengaja kau membaca tulisan ini. 

Tulisan ini kutulis bukan karena aku ingin memintamu kembali, melainkan kutulis hanya untuk kau abaikan. Berbahagialah. Walau sesaat dan berjarak, terima kasih pernah hadir dan menjadi bagian dari cerita hidupku.

Dariku, perempuan yang takut jatuh cinta.

Postingan populer dari blog ini

Sisi Lain Kebahagian

Terkadang, orang mengira bahwa kau bahagia. Dan kau berusaha meng-aminkan. Padahal, kau hanya merasa bahagia ketika sedang bersama teman-teman, ketika kau dan mereka saling melempar lelucon yang membuat kalian sampai menutup mulut karena tertawa dengan lelucon yang baru saja dibuat oleh seseorang.  Kau selalu menjadi yang paling antusias menceritakan hal-hal absurd pada kawanmu. Hingga mereka menganggap bahwa kau adalah seorang yang periang, yang dipenuhi energi positif, dan yang selalu bahagia. Padahal, disaat hari berubah menjadi malam dan disaat kau sendiri, senyum riangmu berubah menjadi masam. Tawamu berubah jadi kesedihan yang tak dapat dijelaskan. Kau berbaring di tempat tidurmu, merebahkan diri dan memikirkan semua hal yang ingin kau katakan. Semua hal yang harus kau akui meski hanya dengan pena, kertas, dan pikiran. Kau bertengkar dan marah dengan pikiranmu sendiri. Memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi. Membayangkan semua skenario terburuk yang selalu menghantui ota...

Bukan Rumah

https://www.deviantart.com/bombshell-claire/art/Broken-Home-751158620 Beberapa anak yang tumbuh dalam keluarga patah, mendefinisikan rumah yang katanya sebagai tempat paling nyaman, aman dan tentram hanyalah sebuah omong kosong. Sebaliknya, bagi mereka yang hampir tiap hari menyaksikan gemelut konflik, percek-cokan, dan kekerasan di dalamnya, menganggap rumah sebagai tempat ramai namun mengerikan. Di dalamnya tersimpan jutaan kehampaan, kesedihan, ketidaknyamanan, serta kegelisahan. Seolah rumah tidak menjalankan fungsinya dengan baik. Ruang keluarga yang normalnya difungsikan sebagai tempat menghabiskan waktu bersama, bercengkrama dan bersenda-gurau antar-anggota keluarga dengan suguhan-suguhan random pada layar televisi, sayangnya beralih fungsi sebagai tempat saling mengumpat dan beradu argumen dengan nuansa yang mencekam.  Ruang makan yang biasanya dimanfaatkan anggota keluarga untuk berbagi cerita dan hal-hal menyenangkan yang terjadi dihari itu dengan ditemani santapan sederh...

Mengagumi Dalam Diam

Ada satu nama di dalam hatimu, nama yang selalu kau aminkan di setiap sujud terakhirmu, nama yang sangat kau harapkan untuk kau dampingi. Kepada pemilik nama itu, kau mencintai sedalam-dalamnya, namun kau pendam sediam-sediamnya. Kau hanya mampu memperhatikannya dari jarak yang jauh, tanpa berani menyentuh. Ketika dia bahagia, kau pun ikut merasakannya, meski bukan kau yang menjadi alasannya. Ketika dia terluka, kau pun tak pernah rela, meski kau juga begitu pengecut menjadi penawarnya. Saban hari, tak sekalipun kau alpa merindukannya, tak sedikitpun ingatanmu kosong dari bayangnya. Hanya dia, dia, dan dia. Kau mengetahui bahwa dia ialah seseorang yang menyukai puisi, maka setiap kali kau menulis, kau menulis tentangnya. Kau mengetahui bahwa dia ialah seseorang yang menyukai senja, maka setiap kali senja datang menyapa, kau memikirkan wajahnya. Kau mengetahui bahwa dia ialah seseorang yang menyukai hujan, maka setiap kali turun hujan, kau membayangkan kenangan dengannya. Apa yang dirin...