Langsung ke konten utama

Dan Lagi...

Setelah pernah begitu patah, kau memutuskan untuk tidak tertarik lagi mencintai siapa pun. Mungkin, karena luka lamamu belum sepenuhnya pulih atau mungkin juga karena kau masih terlalu penakut untuk memilih. 

Padahal di hidupmu, banyak sekali yang datang menawarkan hati, tapi pintu yang dulu pernah kau buka masih tertutup serapat-rapatnya, tangan yang dulu pernah begitu lapang menerima masih menggenggam erat masa lalunya. 

Hingga akhirnya dia datang menjanjikan tenang, menjanjikan sembuh yang paling kau butuh, menjanjikan harapan yang paling kau harap-harapkan. Membuat kau percaya, bahwa bersamanya mungkin kau akan kembali menemukan bahagia.

Namun, terkadang sakit memang tidak hanya sekali, patah hati memang kadang perlu berkali-kali. Setelah se-semoga itu dia dalam doamu, setelah seyakin itu dia dalam aminmu, tiba-tiba semesta berkata lain; Kau harus kembali robek oleh seseorang yang kau percaya mampu menjahit luka-lukamu, kau harus kembali patah oleh seseorang yang kau anggap mampu menumbuhkanmu, dan kau harus kembali remuk oleh seseorang yang kau yakini mampu meng-utuhkanmu.

Pada awalnya, kau merasa segalanya baik-baik saja. Kau menilai bahwa dia adalah seseorang yang paham cara menghargai. Kau menganggap bahwa dia takkan pernah melukai, dan akhirnya memutuskan untuk mencintai.

Namun semakin lama, kau sadar dia mulai berubah dan berakhir sama. Padahal rasa cintamu telah dibuat merekah karenanya. 

Dia pergi tanpa permisi, dia berlari di saat kau ingin berhenti.

Sekarang, lihatlah! Kau merasa benar-benar mati rasa. Kau merasa benar-benar buta memandang cinta. Kau seperti tidak memiliki hati lagi. Beberapa orang yang datang menawarkan hati, tak kau pedulikan lagi. Kau seperti enggan mengenal siapapun lagi. Dan kau kembali menutup rapat hati yang dulu sempat dengan hangat menyambutnya. Sekarang, kau hanya jadi seseorang yang paling pasrah, terserah, dan berserah tentang bagaimana lagi semesta akan menuliskan kisah. 

Tak ada lagi keinginan-keinginanmu untuk bertemu dan mengharapkan siapa pun itu.

Setelah patah hati keduamu, pintamu hanya satu;

Berharap nanti yang hadir setelahnya adalah takdir untuk hidupmu.

Postingan populer dari blog ini

Sisi Lain Kebahagian

Terkadang, orang mengira bahwa kau bahagia. Dan kau berusaha meng-aminkan. Padahal, kau hanya merasa bahagia ketika sedang bersama teman-teman, ketika kau dan mereka saling melempar lelucon yang membuat kalian sampai menutup mulut karena tertawa dengan lelucon yang baru saja dibuat oleh seseorang.  Kau selalu menjadi yang paling antusias menceritakan hal-hal absurd pada kawanmu. Hingga mereka menganggap bahwa kau adalah seorang yang periang, yang dipenuhi energi positif, dan yang selalu bahagia. Padahal, disaat hari berubah menjadi malam dan disaat kau sendiri, senyum riangmu berubah menjadi masam. Tawamu berubah jadi kesedihan yang tak dapat dijelaskan. Kau berbaring di tempat tidurmu, merebahkan diri dan memikirkan semua hal yang ingin kau katakan. Semua hal yang harus kau akui meski hanya dengan pena, kertas, dan pikiran. Kau bertengkar dan marah dengan pikiranmu sendiri. Memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi. Membayangkan semua skenario terburuk yang selalu menghantui ota...

Bukan Rumah

https://www.deviantart.com/bombshell-claire/art/Broken-Home-751158620 Beberapa anak yang tumbuh dalam keluarga patah, mendefinisikan rumah yang katanya sebagai tempat paling nyaman, aman dan tentram hanyalah sebuah omong kosong. Sebaliknya, bagi mereka yang hampir tiap hari menyaksikan gemelut konflik, percek-cokan, dan kekerasan di dalamnya, menganggap rumah sebagai tempat ramai namun mengerikan. Di dalamnya tersimpan jutaan kehampaan, kesedihan, ketidaknyamanan, serta kegelisahan. Seolah rumah tidak menjalankan fungsinya dengan baik. Ruang keluarga yang normalnya difungsikan sebagai tempat menghabiskan waktu bersama, bercengkrama dan bersenda-gurau antar-anggota keluarga dengan suguhan-suguhan random pada layar televisi, sayangnya beralih fungsi sebagai tempat saling mengumpat dan beradu argumen dengan nuansa yang mencekam.  Ruang makan yang biasanya dimanfaatkan anggota keluarga untuk berbagi cerita dan hal-hal menyenangkan yang terjadi dihari itu dengan ditemani santapan sederh...

Mengagumi Dalam Diam

Ada satu nama di dalam hatimu, nama yang selalu kau aminkan di setiap sujud terakhirmu, nama yang sangat kau harapkan untuk kau dampingi. Kepada pemilik nama itu, kau mencintai sedalam-dalamnya, namun kau pendam sediam-sediamnya. Kau hanya mampu memperhatikannya dari jarak yang jauh, tanpa berani menyentuh. Ketika dia bahagia, kau pun ikut merasakannya, meski bukan kau yang menjadi alasannya. Ketika dia terluka, kau pun tak pernah rela, meski kau juga begitu pengecut menjadi penawarnya. Saban hari, tak sekalipun kau alpa merindukannya, tak sedikitpun ingatanmu kosong dari bayangnya. Hanya dia, dia, dan dia. Kau mengetahui bahwa dia ialah seseorang yang menyukai puisi, maka setiap kali kau menulis, kau menulis tentangnya. Kau mengetahui bahwa dia ialah seseorang yang menyukai senja, maka setiap kali senja datang menyapa, kau memikirkan wajahnya. Kau mengetahui bahwa dia ialah seseorang yang menyukai hujan, maka setiap kali turun hujan, kau membayangkan kenangan dengannya. Apa yang dirin...