Setelah pernah begitu patah, kau memutuskan untuk tidak tertarik lagi mencintai siapa pun. Mungkin, karena luka lamamu belum sepenuhnya pulih atau mungkin juga karena kau masih terlalu penakut untuk memilih.
Padahal di hidupmu, banyak sekali yang datang menawarkan hati, tapi pintu yang dulu pernah kau buka masih tertutup serapat-rapatnya, tangan yang dulu pernah begitu lapang menerima masih menggenggam erat masa lalunya.
Hingga akhirnya dia datang menjanjikan tenang, menjanjikan sembuh yang paling kau butuh, menjanjikan harapan yang paling kau harap-harapkan. Membuat kau percaya, bahwa bersamanya mungkin kau akan kembali menemukan bahagia.
Namun, terkadang sakit memang tidak hanya sekali, patah hati memang kadang perlu berkali-kali. Setelah se-semoga itu dia dalam doamu, setelah seyakin itu dia dalam aminmu, tiba-tiba semesta berkata lain; Kau harus kembali robek oleh seseorang yang kau percaya mampu menjahit luka-lukamu, kau harus kembali patah oleh seseorang yang kau anggap mampu menumbuhkanmu, dan kau harus kembali remuk oleh seseorang yang kau yakini mampu meng-utuhkanmu.
Pada awalnya, kau merasa segalanya baik-baik saja. Kau menilai bahwa dia adalah seseorang yang paham cara menghargai. Kau menganggap bahwa dia takkan pernah melukai, dan akhirnya memutuskan untuk mencintai.
Namun semakin lama, kau sadar dia mulai berubah dan berakhir sama. Padahal rasa cintamu telah dibuat merekah karenanya.
Dia pergi tanpa permisi, dia berlari di saat kau ingin berhenti.
Sekarang, lihatlah! Kau merasa benar-benar mati rasa. Kau merasa benar-benar buta memandang cinta. Kau seperti tidak memiliki hati lagi. Beberapa orang yang datang menawarkan hati, tak kau pedulikan lagi. Kau seperti enggan mengenal siapapun lagi. Dan kau kembali menutup rapat hati yang dulu sempat dengan hangat menyambutnya. Sekarang, kau hanya jadi seseorang yang paling pasrah, terserah, dan berserah tentang bagaimana lagi semesta akan menuliskan kisah.
Tak ada lagi keinginan-keinginanmu untuk bertemu dan mengharapkan siapa pun itu.
Setelah patah hati keduamu, pintamu hanya satu;
Berharap nanti yang hadir setelahnya adalah takdir untuk hidupmu.
