Langsung ke konten utama

Teruntuk Siapapun yang Memilih Berpisah Padahal Langkah Kaki Masih Searah

Terkadang, ada yang tiba-tiba tergenang di ujung mata setiap kali terlintas bayang-bayang seseorang, ada yang tiba-tiba terasa sesak di dalam dada setiap kali terkenang sosok seseorang. 

Tentang dia yang dulu pernah mengisi hari-hari, namun kini kabarnya sudah tidak terdengar lagi. 

Tentang dia yang dulu pernah menjadi teman bercerita, namun kini hanya tinggal cerita.

Tentang dia yang dulu pernah berjalan beriringan, namun kini tak lagi satu tujuan.

Padahal, perginya sudah sejauh itu. 

Padahal, hilangnya sudah selama itu.

Namun, melupakannya tetap tidak semudah itu.

Tak apa, seikhlas apapun seseorang pasti akan ada saatnya di mana ia tak mampu menahan rindu datang menyapa, setabah apapun seseorang pasti akan ada saatnya di mana ia rapuh diusik kenangannya. Menangislah, jika itu melegakan. Berdoalah, mintalah dikuatkan.

Kau sadar kenapa bagimu dirinya begitu berarti, kenapa bagimu dirinya tak bisa terganti.

Karena, selain dirinya yang paling banyak merekatkan cerita dalam ingatan, dirinya adalah seseorang yang mampu menghadirkan rasa nyaman. 

Dirinya adalah seseorang yang mengajarkanmu perihal dicintai dan mencintai. 

Jika mengingat semua yang telah dilewati, rasanya, waktu-waktu dengannyalah yang paling bahagia; Menghabiskan malam penuh tawa, bercerita tentang hal-hal sederhana, merencanakan masa depan berdua, menyusun harapan tentang hari tua. Berbagi sedih, pedih, hingga pulih.

Bahkan, ada kalanya kau menatapnya dalam-dalam, seraya bergumam dalam hati betapa bersyukurnya diberi kesempatan oleh Tuhan untuk mengenalnya, menyayangi dirinya, dan menjadi bagian dari hidupnya. Dia adalah doa di kala kau terjaga, dan amin di kala kau ingin memejamkan mata.

Tapi di sisi yang lain, dirinya pula yang mengenalkanmu pada patah hati. Padahal, kau baru saja merasakan indahnya memiliki, seketika semuanya berbalik berubah menjadi rasa sedih karena dipaksa melepaskan. 

Di saat baru saja merasakan bahagia, seketika semuanya berbalik berubah menjadi luka karena diminta merelakan. 

Secepat itu perjumpaan, sesakit itu perpisahan, dan sesulit itu melupakan.

Namun, hati yang baik akan selalu berprasangka baik kepada Yang Maha Baik. Mungkin saja bertemu dengannya adalah singgah yang kelak akan mengantarkanmu pada sebenar-benarnya rumah. Mungkin saja berpisah dengannya adalah cara-Nya untuk membuatmu semakin dewasa.  Tuhan tak mematahkan, Dia justru menyelamatkanmu dari patah.

Tak perlu menyesali apapun yang telah terjadi, tak perlu menyalahkan untuk perpisahan yang memang sudah digariskan. Kau dan dirinya hanyalah dua orang yang diizinkan untuk bertemu, bukan untuk bersatu.

Postingan populer dari blog ini

Sisi Lain Kebahagian

Terkadang, orang mengira bahwa kau bahagia. Dan kau berusaha meng-aminkan. Padahal, kau hanya merasa bahagia ketika sedang bersama teman-teman, ketika kau dan mereka saling melempar lelucon yang membuat kalian sampai menutup mulut karena tertawa dengan lelucon yang baru saja dibuat oleh seseorang.  Kau selalu menjadi yang paling antusias menceritakan hal-hal absurd pada kawanmu. Hingga mereka menganggap bahwa kau adalah seorang yang periang, yang dipenuhi energi positif, dan yang selalu bahagia. Padahal, disaat hari berubah menjadi malam dan disaat kau sendiri, senyum riangmu berubah menjadi masam. Tawamu berubah jadi kesedihan yang tak dapat dijelaskan. Kau berbaring di tempat tidurmu, merebahkan diri dan memikirkan semua hal yang ingin kau katakan. Semua hal yang harus kau akui meski hanya dengan pena, kertas, dan pikiran. Kau bertengkar dan marah dengan pikiranmu sendiri. Memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi. Membayangkan semua skenario terburuk yang selalu menghantui ota...

Bukan Rumah

https://www.deviantart.com/bombshell-claire/art/Broken-Home-751158620 Beberapa anak yang tumbuh dalam keluarga patah, mendefinisikan rumah yang katanya sebagai tempat paling nyaman, aman dan tentram hanyalah sebuah omong kosong. Sebaliknya, bagi mereka yang hampir tiap hari menyaksikan gemelut konflik, percek-cokan, dan kekerasan di dalamnya, menganggap rumah sebagai tempat ramai namun mengerikan. Di dalamnya tersimpan jutaan kehampaan, kesedihan, ketidaknyamanan, serta kegelisahan. Seolah rumah tidak menjalankan fungsinya dengan baik. Ruang keluarga yang normalnya difungsikan sebagai tempat menghabiskan waktu bersama, bercengkrama dan bersenda-gurau antar-anggota keluarga dengan suguhan-suguhan random pada layar televisi, sayangnya beralih fungsi sebagai tempat saling mengumpat dan beradu argumen dengan nuansa yang mencekam.  Ruang makan yang biasanya dimanfaatkan anggota keluarga untuk berbagi cerita dan hal-hal menyenangkan yang terjadi dihari itu dengan ditemani santapan sederh...

Mengagumi Dalam Diam

Ada satu nama di dalam hatimu, nama yang selalu kau aminkan di setiap sujud terakhirmu, nama yang sangat kau harapkan untuk kau dampingi. Kepada pemilik nama itu, kau mencintai sedalam-dalamnya, namun kau pendam sediam-sediamnya. Kau hanya mampu memperhatikannya dari jarak yang jauh, tanpa berani menyentuh. Ketika dia bahagia, kau pun ikut merasakannya, meski bukan kau yang menjadi alasannya. Ketika dia terluka, kau pun tak pernah rela, meski kau juga begitu pengecut menjadi penawarnya. Saban hari, tak sekalipun kau alpa merindukannya, tak sedikitpun ingatanmu kosong dari bayangnya. Hanya dia, dia, dan dia. Kau mengetahui bahwa dia ialah seseorang yang menyukai puisi, maka setiap kali kau menulis, kau menulis tentangnya. Kau mengetahui bahwa dia ialah seseorang yang menyukai senja, maka setiap kali senja datang menyapa, kau memikirkan wajahnya. Kau mengetahui bahwa dia ialah seseorang yang menyukai hujan, maka setiap kali turun hujan, kau membayangkan kenangan dengannya. Apa yang dirin...