Terkadang, ada yang tiba-tiba tergenang di ujung mata setiap kali terlintas bayang-bayang seseorang, ada yang tiba-tiba terasa sesak di dalam dada setiap kali terkenang sosok seseorang.
Tentang dia yang dulu pernah mengisi hari-hari, namun kini kabarnya sudah tidak terdengar lagi.
Tentang dia yang dulu pernah menjadi teman bercerita, namun kini hanya tinggal cerita.
Tentang dia yang dulu pernah berjalan beriringan, namun kini tak lagi satu tujuan.
Padahal, perginya sudah sejauh itu.
Padahal, hilangnya sudah selama itu.
Namun, melupakannya tetap tidak semudah itu.
Tak apa, seikhlas apapun seseorang pasti akan ada saatnya di mana ia tak mampu menahan rindu datang menyapa, setabah apapun seseorang pasti akan ada saatnya di mana ia rapuh diusik kenangannya. Menangislah, jika itu melegakan. Berdoalah, mintalah dikuatkan.
Kau sadar kenapa bagimu dirinya begitu berarti, kenapa bagimu dirinya tak bisa terganti.
Karena, selain dirinya yang paling banyak merekatkan cerita dalam ingatan, dirinya adalah seseorang yang mampu menghadirkan rasa nyaman.
Dirinya adalah seseorang yang mengajarkanmu perihal dicintai dan mencintai.
Jika mengingat semua yang telah dilewati, rasanya, waktu-waktu dengannyalah yang paling bahagia; Menghabiskan malam penuh tawa, bercerita tentang hal-hal sederhana, merencanakan masa depan berdua, menyusun harapan tentang hari tua. Berbagi sedih, pedih, hingga pulih.
Bahkan, ada kalanya kau menatapnya dalam-dalam, seraya bergumam dalam hati betapa bersyukurnya diberi kesempatan oleh Tuhan untuk mengenalnya, menyayangi dirinya, dan menjadi bagian dari hidupnya. Dia adalah doa di kala kau terjaga, dan amin di kala kau ingin memejamkan mata.
Tapi di sisi yang lain, dirinya pula yang mengenalkanmu pada patah hati. Padahal, kau baru saja merasakan indahnya memiliki, seketika semuanya berbalik berubah menjadi rasa sedih karena dipaksa melepaskan.
Di saat baru saja merasakan bahagia, seketika semuanya berbalik berubah menjadi luka karena diminta merelakan.
Secepat itu perjumpaan, sesakit itu perpisahan, dan sesulit itu melupakan.
Namun, hati yang baik akan selalu berprasangka baik kepada Yang Maha Baik. Mungkin saja bertemu dengannya adalah singgah yang kelak akan mengantarkanmu pada sebenar-benarnya rumah. Mungkin saja berpisah dengannya adalah cara-Nya untuk membuatmu semakin dewasa. Tuhan tak mematahkan, Dia justru menyelamatkanmu dari patah.
Tak perlu menyesali apapun yang telah terjadi, tak perlu menyalahkan untuk perpisahan yang memang sudah digariskan. Kau dan dirinya hanyalah dua orang yang diizinkan untuk bertemu, bukan untuk bersatu.
