Mungkin kau pernah berada pada titik di mana kau tidak tahu lagi harus berbuat apa karena terlalu merindukan seseorang. Memasrahkan diri, menjatuhkan air mata, menyebut namanya dengan lirih dalam doa-doa penuh semoga.
Kepada-Nya, kau memohon agar bisa menatapnya walau dari kejauhan. Memastikan apakah dirinya dijaga oleh seseorang yang tepat.
Kau tak apa bila tidak bersama lagi, kau tak apa bila sudah terganti, kau tak apa dan kau baik-baik saja. Asal bahagia bisa selalu kekal di hidupnya, asal senyumnya bisa lebih indah dari di saat dia bersamamu.
Walaupun kau mengutuk dirimu. Kau menyalahkan dirimu. Kau menyesali dirimu sendiri.
Dulu, dia pernah mengatakan bahwa dia begitu mengagumi senja, maka kau menuliskan sebuah cerita, dan kau sematkan kata Senja di dalamnya, dan kau ceritakan segala tentangnya di sana. Agar ketika senja di langit telah pergi diam-diam, ada satu senja yang tak mengerti caranya tenggelam. Kau berharap bisa selalu menemaninya, tak kenal waktu.
Walaupun sebenarnya kau berbohong, kau berkata bahwa cerita itu bukan tentangnya, tokoh utamanya bukan dia, alurnya tidak ada sangkut pautnya dengan dia. Padahal kenyataannya semuanya masih untuk dia.
Perihal mengikhlaskannya sebenarnya kau merasa mampu. Meski menemukan penggantinya, kau belum mampu.
Sebab, sebelumnya kau berpikir, bahwa dengan menulis cerita itu kau berharap dia baca agar dia merasa bersalah telah meninggalkanmu, agar dia merasa menyesal telah mengecewakanmu, agar dia merasa berdosa telah menghancurkan hidupmu.
Hingga kau tersadar, bahwa kaulah yang salah karena mencurahkan seluruh rasa kepada seseorang yang tak kau ketahui akan menjadi takdirmu atau tidak pada akhirnya.
Kaulah yang menyesal karena terlalu dalam menyelam ke dasar hati seseorang yang membuatmu tenggelam.
Kaulah yang berdosa karena pernah terlintas di doamu supaya segala hal yang menimpamu juga menimpanya. Sekali lagi, kau merutuki diri sendiri.
Di hati kecilmu kau berharap agar dia membaca cerita itu hingga air matanya jatuh. Namun sayangnya cerita itu tidak membuat dia luluh.
Kau berharap agar dia membaca cerita itu sampai akhir. Namun sayang, bahkan untuk menganggap cerita itu pernah ada pun suatu hal yang mustahil.
Kau begitu siap jadi bahan canda, jika nanti dia membaca cerita itu dengan ditemani orang lain di sebelahnya.
Berat. Namun kau berharap agar dia sedikit saja menengok cerita yang kau tulis, walau dalam hatinya mungkin tak terbesit untuk membacanya. Kau tetap bersikeras menyuruhnya menyimpan cerita itu. Karena, kau berpikir bahwa entah nanti dia merasa kesepian menghadapi hari-hari, dia dapat menemuimu dalam setiap lembarannya. Kau ada menjelma huruf untuk dia eja.
Karena, entah nanti dia merasa butuh ditemani, dia dapat menemuimu dalam setiap kalimat yang kau ramu. Di sana, kau ada menjelma kata untuk dia baca.
Sampai dia merasa telah damai, dan menutup cerita yang kau rangkaikan untuknya. Kau menyuruhnya meletakkan cerita itu di rak tersudut kamarnya, dan menyuruhnya untuk membuka cerita baru, yang tentu saja di dalamnya tidak ada lagi dirimu.
