Langsung ke konten utama

Cerita Itu Untukmu

Mungkin kau pernah berada pada titik di mana kau tidak tahu lagi harus berbuat apa karena terlalu merindukan seseorang. Memasrahkan diri, menjatuhkan air mata, menyebut namanya dengan lirih dalam doa-doa penuh semoga.

Kepada-Nya, kau memohon agar bisa menatapnya walau dari kejauhan. Memastikan apakah dirinya dijaga oleh seseorang yang tepat.

Kau tak apa bila tidak bersama lagi, kau tak apa bila sudah terganti, kau tak apa dan kau baik-baik saja. Asal bahagia bisa selalu kekal di hidupnya, asal senyumnya bisa lebih indah dari di saat dia bersamamu.

Walaupun kau mengutuk dirimu. Kau menyalahkan dirimu. Kau menyesali dirimu sendiri.

Dulu, dia pernah mengatakan bahwa dia begitu mengagumi senja, maka kau menuliskan sebuah cerita, dan kau sematkan kata Senja di dalamnya, dan kau ceritakan segala tentangnya di sana. Agar ketika senja di langit telah pergi diam-diam, ada satu senja yang tak mengerti caranya tenggelam. Kau berharap bisa selalu menemaninya, tak kenal waktu.

Walaupun sebenarnya kau berbohong, kau berkata bahwa cerita itu bukan tentangnya, tokoh utamanya bukan dia, alurnya tidak ada sangkut pautnya dengan dia. Padahal kenyataannya semuanya masih untuk dia.

Perihal mengikhlaskannya sebenarnya kau merasa mampu. Meski menemukan penggantinya, kau belum mampu.

Sebab, sebelumnya kau berpikir, bahwa dengan menulis cerita itu kau berharap dia baca agar dia merasa bersalah telah meninggalkanmu, agar dia merasa menyesal telah mengecewakanmu, agar dia merasa berdosa telah menghancurkan hidupmu. 

Hingga kau tersadar, bahwa kaulah yang salah karena mencurahkan seluruh rasa kepada seseorang yang tak kau ketahui akan menjadi takdirmu atau tidak pada akhirnya. 

Kaulah yang menyesal karena terlalu dalam menyelam ke dasar hati seseorang yang membuatmu tenggelam. 

Kaulah yang berdosa karena pernah terlintas di doamu supaya segala hal yang menimpamu juga menimpanya. Sekali lagi, kau merutuki diri sendiri.

Di hati kecilmu kau berharap agar dia membaca cerita itu hingga air matanya jatuh. Namun sayangnya cerita itu tidak membuat dia luluh.

Kau berharap agar dia membaca cerita itu sampai akhir. Namun sayang, bahkan untuk menganggap cerita itu pernah ada pun suatu hal yang mustahil.

Kau begitu siap jadi bahan canda, jika nanti dia membaca cerita itu dengan ditemani orang lain di sebelahnya.

Berat. Namun kau berharap agar dia sedikit saja menengok cerita yang kau tulis, walau dalam hatinya mungkin tak terbesit untuk membacanya. Kau tetap bersikeras menyuruhnya menyimpan cerita itu. Karena, kau berpikir bahwa entah nanti dia merasa kesepian menghadapi hari-hari, dia dapat menemuimu dalam setiap lembarannya. Kau ada menjelma huruf untuk dia eja.

Karena, entah nanti dia merasa butuh ditemani, dia dapat menemuimu dalam setiap kalimat yang kau ramu. Di sana, kau ada menjelma kata untuk dia baca.

Sampai dia merasa telah damai, dan menutup cerita yang kau rangkaikan untuknya. Kau menyuruhnya meletakkan cerita itu di rak tersudut kamarnya, dan menyuruhnya untuk membuka cerita baru, yang tentu saja di dalamnya tidak ada lagi dirimu.

Postingan populer dari blog ini

Sisi Lain Kebahagian

Terkadang, orang mengira bahwa kau bahagia. Dan kau berusaha meng-aminkan. Padahal, kau hanya merasa bahagia ketika sedang bersama teman-teman, ketika kau dan mereka saling melempar lelucon yang membuat kalian sampai menutup mulut karena tertawa dengan lelucon yang baru saja dibuat oleh seseorang.  Kau selalu menjadi yang paling antusias menceritakan hal-hal absurd pada kawanmu. Hingga mereka menganggap bahwa kau adalah seorang yang periang, yang dipenuhi energi positif, dan yang selalu bahagia. Padahal, disaat hari berubah menjadi malam dan disaat kau sendiri, senyum riangmu berubah menjadi masam. Tawamu berubah jadi kesedihan yang tak dapat dijelaskan. Kau berbaring di tempat tidurmu, merebahkan diri dan memikirkan semua hal yang ingin kau katakan. Semua hal yang harus kau akui meski hanya dengan pena, kertas, dan pikiran. Kau bertengkar dan marah dengan pikiranmu sendiri. Memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi. Membayangkan semua skenario terburuk yang selalu menghantui ota...

Bukan Rumah

https://www.deviantart.com/bombshell-claire/art/Broken-Home-751158620 Beberapa anak yang tumbuh dalam keluarga patah, mendefinisikan rumah yang katanya sebagai tempat paling nyaman, aman dan tentram hanyalah sebuah omong kosong. Sebaliknya, bagi mereka yang hampir tiap hari menyaksikan gemelut konflik, percek-cokan, dan kekerasan di dalamnya, menganggap rumah sebagai tempat ramai namun mengerikan. Di dalamnya tersimpan jutaan kehampaan, kesedihan, ketidaknyamanan, serta kegelisahan. Seolah rumah tidak menjalankan fungsinya dengan baik. Ruang keluarga yang normalnya difungsikan sebagai tempat menghabiskan waktu bersama, bercengkrama dan bersenda-gurau antar-anggota keluarga dengan suguhan-suguhan random pada layar televisi, sayangnya beralih fungsi sebagai tempat saling mengumpat dan beradu argumen dengan nuansa yang mencekam.  Ruang makan yang biasanya dimanfaatkan anggota keluarga untuk berbagi cerita dan hal-hal menyenangkan yang terjadi dihari itu dengan ditemani santapan sederh...

Mengagumi Dalam Diam

Ada satu nama di dalam hatimu, nama yang selalu kau aminkan di setiap sujud terakhirmu, nama yang sangat kau harapkan untuk kau dampingi. Kepada pemilik nama itu, kau mencintai sedalam-dalamnya, namun kau pendam sediam-sediamnya. Kau hanya mampu memperhatikannya dari jarak yang jauh, tanpa berani menyentuh. Ketika dia bahagia, kau pun ikut merasakannya, meski bukan kau yang menjadi alasannya. Ketika dia terluka, kau pun tak pernah rela, meski kau juga begitu pengecut menjadi penawarnya. Saban hari, tak sekalipun kau alpa merindukannya, tak sedikitpun ingatanmu kosong dari bayangnya. Hanya dia, dia, dan dia. Kau mengetahui bahwa dia ialah seseorang yang menyukai puisi, maka setiap kali kau menulis, kau menulis tentangnya. Kau mengetahui bahwa dia ialah seseorang yang menyukai senja, maka setiap kali senja datang menyapa, kau memikirkan wajahnya. Kau mengetahui bahwa dia ialah seseorang yang menyukai hujan, maka setiap kali turun hujan, kau membayangkan kenangan dengannya. Apa yang dirin...