Hai apa kabar?
Teruntuk kau yang suatu saat akan menjadi pendamping hidupku. Banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan kepadamu. Seperti sedang apa kau sekarang? Bagaimana sekolah atau kuliahmu? Atau kau mungkin sudah bekerja? Atau kau malah belum lahir? Atau kau bahkan dari belahan dunia lain yang tidak memahami bahasa tulisanku ini? Tidak masalah. Yang penting aku sudah menuliskanya. Urusan terbaca atau tidak, itu urusan belakangan. Bukankah sesuatu yang dilakukan dengan tulus, tidak harus menerima balasan? Begitu kata orang bijak.
Saat aku menulis ini, usiaku baru memasuki 20 tahun. Usia yang katanya merupakan titik dimana kita mulai bertemu dan menghadapi kehidupan yang sesungguhnya. Usia dimana kita mulai memikirkan banyak hal. Tentang bagaimana kehidupan kita kelak atau bahkan siapa jodoh kita nanti.
Aku menulis ini dengan sadar, dan ingin berpesan kepadamu, yang suatu saat akan menjadi takdir untuk hidupku. Mungkin saat ini, kau sedang menempuh perjalanan panjang untuk menemuiku, ketahuilah aku menunggumu.
Suatu saat, jika kita ditakdirkan bersama, satu hal yang ingin kusampaikan bahwa aku orangnya agak keras dan ngeyel. Tapi aku akan berusaha sebisa mungkin untuk berlaku lemah lembut padamu. Bimbinglah aku untuk menjadi istri yang baik dan patuh kepadamu. Tuntun aku kepada kebaikan-kebaikan. Berlemah-lembutlah padaku, bukankah juga perilaku istri adalah cerminan suaminya? Baik buruknya caraku semua tergantung dari caramu memperlakukanku, maka bersabarlah menghadapiku. Turunkan egomu, bantu aku untuk menjadi istri yang baik menurut agama.
Aku juga sangat sulit mengontrol emosi. Maka bantu aku untuk mengontrolnya agar tidak kelewatan. Jangan diamkan aku berhari-hari ketika kita dihadapkan pada posisi saling bertengkar, ketahuilah aku akan luluh ketika kau memelukku lalu menenangkanku sembari mengusap kepalaku dan memberikan kalimat-kalimat penenang saat emosiku sedang meledak-ledak.
Aku mudah tertawa oleh hal-hal kecil, kuharap kau juga demikian. Jika suatu saat kau melihat perubahan wajahku yang mulai cemberut entah karena merasa lelah dengan pekerjaan rumah, atau karena suasana hatiku yang lagi tidak stabil, kumohon sadarlah dan peka. Aku butuh sedikit uluran tanganmu. Hiburlah aku, ajak aku berjalan-jalan walau hanya keliling pekarangan rumah. Hadiahi aku walau hanya dengan sekantung somay. Bantu aku menyelesaikan pekerjaan rumah sembari bumbuhi telingaku dengan cerita-cerita randommu atau cerita tentang pekerjaanmu. Aku akan senang dengan hal-hal itu.
Jangan terlalu serius menghadapi dunia, sesekali kita perlu bergurau dan bersenang-senang. Jangan kau habiskan waktumu untuk menatap layar ponselmu ketika bersamaku. Berceritalah! Aku senang bercerita dan diceritakan tentang suatu hal. Tentang kenapa penjual martabak hanya menjual di malam hari, tentang harga beras yang semakin melambung tinggi, tentang teori konspirasi, dan apapun itu. Jangan terlalu dingin dan kaku. Aku akan merasa tidak dianggap dan terabaikan, dan itu akan membuatku sedih.
Aku tidak suka asap rokok, jika kamu saat ini pecandu rokok, kuharap kamu mencoba untuk berhenti. Ini bukan persoalan tentang diriku saja, tapi tentang anak-anak kita. Aku tak ingin mereka hidup di lingkungan yang penuh racun. Disatu sisi, aku juga tak ingin kamu terkena penyakit yang diderita oleh ayahku dahulu. Aku mau kita hidup sehat, menyantap makanan bergizi yang kumasak dengan sepenuh hati.
Aku juga cukup perhitungan tentang uang. Bukan berarti pelit, hanya saja aku tidak tega jika uang yang kamu hasilkan dengan susah payah itu, sebagiannya kamu habiskan untuk rokok atau sesuatu yang tidak penting lainnya.
Sejak kecil aku dibiasakan untuk berhemat karena hidupku yang dahulu sangat susah. Untuk itu, aku ingin kita menghargai walau seperak uang. Namun, aku tidak akan berpikir dua kali jika itu menyangkut pendidikan, kebutuhan makan, tempat tinggal dan sedekah. Aku juga tidak masalah jika kita harus memakai pakaian yang non-branded. Aku tidak segila itu dengan kemewahan. Aku ingin kita hidup dengan gaya hidup yang sederhana, biasa-biasa saja, dan jauh dari kesan glamor, tapi punya tabungan dan aset yang cukup untuk pendidikan anak-anak kita dan simpanan untuk hari tua. Aku ingin anak-anak kita mengejar cita-citanya, menggeluti bidangnya, dan kita orang tuanya dapat memfasilitasi apa yang mereka butuh. Aku harap kamu juga memiliki pikiran yang sama denganku.
Aku juga mudah cemburu dan cukup posesif. Aku tak suka jika kamu lebih banyak menghabiskan waktumu dengan teman-temanmu. Sesekali tidak masalah. Tapi tolong, hargai aku sebagai istrimu. Libatkan aku atas setiap aktivitasmu. Izin atau ajak aku bersamamu. Aku akan merasa senang dengan hal itu. Dan satu lagi, jangan membanding-bandingkan diriku dengan wanita lain di luar sana. Karena aku ingin menjadi diriku yang apa adanya. Tundukkan pandanganmu, jangan sembarang memandang sesuatu yang bukan milikmu. Aku tak suka jika kamu mudah melirik sana-sini.
Aku ingin kamu menjadi seorang ayah yang diidam-idamkan oleh anak-anak. Seorang ayah yang bisa dibanggakan. Seorang ayah yang bijak dan menyenangkan. Karena, dirimu lah yang menjadi sosok pemberi contoh untuk anak-anak kita kelak. Jangan buat mereka kecewa, atau membenci orang tuanya. Bantu aku mendidik mereka menjadi anak yang baik, bermoral, cerdas dan bisa diandalkan. Aku tidak sanggup jika harus mendidiknya seorang diri sementara kamu terlalu sibuk dengan pekerjaan dan duniamu.
"Sayang"
Jika kamu nanti ditakdirkan untukku, aku ingin masing-masing dari kita saling memanggil dengan kata itu. Walaupun mungkin di awal akan terdengar canggung, tapi satu kata itu terdengar manis dan berharga bagiku. Oh iya, jangan pernah memanggilku dengan nada yang ketus atau nada yang keras, sebab aku sudah terlalu muak dengan hal itu di masa kecilku.
Maaf aku banyak menuntutmu, sebab ada banyak hal yang tidak kudapatkan semasa kecil dari ayahku, dan aku berharap kau bisa membantuku memenuhinya saat kita bersama suatu saat nanti.
Jangan khawatir, aku juga akan berusaha mengobati luka yang kau dapati dari orang-orang di masa lalumu. Aku juga akan berusaha menjadi rumah yang nyaman bagimu, menjadi tempat di mana kau bisa berkeluh kesah, bahkan menangis walaupun dunia tak menerima tangisan seorang pria. Aku akan membantu menyeka air matamu, dan memberimu pelukan hangat yang mungkin jarang kau dapati lagi saat kau mulai beranjak dewasa.
Sayang, kita hadapi dunia ini dan masa yang akan datang bersama-sama, ya. Aku mencintaimu, seseorang yang belum kuketahui.
Kendari, 27 Maret 2020
