Langsung ke konten utama

Dinamika Hidup Dalam Kemiskinan

 

https://pxhere.com/id/photo/129939

Yang orang kaya tidak pernah tahu tentang hidup di dalam kemiskinan. 

Kemiskinan yang kau miliki seringkali bukan akibat ke-tidak-mampuan/ke-tidak-kompeten-anmu. Kemiskinan yang kau miliki juga seringkali bukan karena kebodohanmu, melainkan ketiadaan kesempatan untuk belajar dalam kondisi yang layak serta mal-nutrisi yang membuat kecerdasanmu dalam taraf tertentu tidak optimal.

Kemiskinan yang kau miliki seringkali bukan karena kemalasanmu, tapi karena orang tuamu yang mewariskan ke-pesimis-an mereka akan masa depan kepadamu. Mereka tidak akan pernah tahu, bahwa kemiskinan itu sifatnya struktural dan juga bisa diturunkan.

Orang tuamu yang kerap rentan terhadap percekcokan karena masalah ekonomi seringkali memengaruhi perkembangan otakmu terutama dalam meregulasi dan mengekspresikan emosi. 

Terlalu sering melihat orang tuamu berkonflik dan memarahimu akan membuat dirimu menjadi pribadi yang sangat defensif dan dianggap tidak menyenangkan. Mereka tidak akan pernah tahu, bahwa betapa sulitnya untuk sekedar ngobrol dan bersosialisasi 

Dan yang paling menyedihkan, mereka tidak pernah tahu pengaruh kemiskinan terhadap kesehatan mentalmu. Tingkat stres tinggi yang juga disebabkan karena kemiskinan, akan meningkatkan risiko seseorang untuk mengidap gangguan mental. Termasuk gangguan depresi, kecemasan, hingga ketergantungan akan zat adiktif seperti minuman keras dan narkoba. 

Mereka tidak akan pernah tahu, betapa sulitnya keluar dari kemiskinan apalagi dengan mengidap gangguan seperti itu. 

Masih banyak yang ingin kusampaikan, hanya saja aku takut mereka akan mengatakan akan fakta-fakta ini menjadikanmu membenarkan kemiskinan yang kau miliki.

Andai mereka tahu bahwa tulisan ini aku tujukan kepada mereka yang merasa paling kaya, agar sedikit meredam rasa arogannya ketika memandangmu

Postingan populer dari blog ini

Sisi Lain Kebahagian

Terkadang, orang mengira bahwa kau bahagia. Dan kau berusaha meng-aminkan. Padahal, kau hanya merasa bahagia ketika sedang bersama teman-teman, ketika kau dan mereka saling melempar lelucon yang membuat kalian sampai menutup mulut karena tertawa dengan lelucon yang baru saja dibuat oleh seseorang.  Kau selalu menjadi yang paling antusias menceritakan hal-hal absurd pada kawanmu. Hingga mereka menganggap bahwa kau adalah seorang yang periang, yang dipenuhi energi positif, dan yang selalu bahagia. Padahal, disaat hari berubah menjadi malam dan disaat kau sendiri, senyum riangmu berubah menjadi masam. Tawamu berubah jadi kesedihan yang tak dapat dijelaskan. Kau berbaring di tempat tidurmu, merebahkan diri dan memikirkan semua hal yang ingin kau katakan. Semua hal yang harus kau akui meski hanya dengan pena, kertas, dan pikiran. Kau bertengkar dan marah dengan pikiranmu sendiri. Memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi. Membayangkan semua skenario terburuk yang selalu menghantui ota...

Bukan Rumah

https://www.deviantart.com/bombshell-claire/art/Broken-Home-751158620 Beberapa anak yang tumbuh dalam keluarga patah, mendefinisikan rumah yang katanya sebagai tempat paling nyaman, aman dan tentram hanyalah sebuah omong kosong. Sebaliknya, bagi mereka yang hampir tiap hari menyaksikan gemelut konflik, percek-cokan, dan kekerasan di dalamnya, menganggap rumah sebagai tempat ramai namun mengerikan. Di dalamnya tersimpan jutaan kehampaan, kesedihan, ketidaknyamanan, serta kegelisahan. Seolah rumah tidak menjalankan fungsinya dengan baik. Ruang keluarga yang normalnya difungsikan sebagai tempat menghabiskan waktu bersama, bercengkrama dan bersenda-gurau antar-anggota keluarga dengan suguhan-suguhan random pada layar televisi, sayangnya beralih fungsi sebagai tempat saling mengumpat dan beradu argumen dengan nuansa yang mencekam.  Ruang makan yang biasanya dimanfaatkan anggota keluarga untuk berbagi cerita dan hal-hal menyenangkan yang terjadi dihari itu dengan ditemani santapan sederh...

Mengagumi Dalam Diam

Ada satu nama di dalam hatimu, nama yang selalu kau aminkan di setiap sujud terakhirmu, nama yang sangat kau harapkan untuk kau dampingi. Kepada pemilik nama itu, kau mencintai sedalam-dalamnya, namun kau pendam sediam-sediamnya. Kau hanya mampu memperhatikannya dari jarak yang jauh, tanpa berani menyentuh. Ketika dia bahagia, kau pun ikut merasakannya, meski bukan kau yang menjadi alasannya. Ketika dia terluka, kau pun tak pernah rela, meski kau juga begitu pengecut menjadi penawarnya. Saban hari, tak sekalipun kau alpa merindukannya, tak sedikitpun ingatanmu kosong dari bayangnya. Hanya dia, dia, dan dia. Kau mengetahui bahwa dia ialah seseorang yang menyukai puisi, maka setiap kali kau menulis, kau menulis tentangnya. Kau mengetahui bahwa dia ialah seseorang yang menyukai senja, maka setiap kali senja datang menyapa, kau memikirkan wajahnya. Kau mengetahui bahwa dia ialah seseorang yang menyukai hujan, maka setiap kali turun hujan, kau membayangkan kenangan dengannya. Apa yang dirin...