Untuk setiap doa yang kau langitkan di kala malam demi memohon keselamatannya.
Untuk setiap air mata yang jatuh karena terlalu mencemaskan keadaannya.
Untuk setiap sesak di dalam dada karena begitu merindukannya.
Dan untuk setiap ketakutan dalam dirimu karena tak ingin kehilangannya, memohonlah maaf. Sekarang kau akhirnya sampai pada titik berhenti.
Karena selama ini, di hatinya, kau hanyalah seseorang yang tidak memiliki tempat. Kau dipersilahkan masuk, namun sebagai orang asing yang diletakkan di ruangan paling usang, dan hanya akan dia cari ketika semua memilih pergi.
Kau dibiarkan datang, hanya untuk melihatnya hilang dan kau dibiarkan tinggal hanya untuk ditinggalkan.
Betapa kau merasa sulit ketika sadar mencintai seseorang tapi hatinya tak kau ketahui apakah bersemi untukmu atau untuk orang lain. Betapa kesulitan itu menghantuimu ketika kau sadar telah menyayangi seseorang tapi rasa sayangnya tidak kau ketahui apakah tumbuh untukmu atau pada orang lain.
Seberusaha apapun dirimu ada, tetap ditiadakan. Sekuat apapun kau memperjuangkan tetap berujung pada pengabaian. Setabah apapun bertahan, tetap dipaksa melepaskan.
Erat namun seperti renggang. Kau benar-benar tak sanggup.
Dari hatimu yang terdalam, hingga akhirnya kau memilih undur diri.
Mungkin, kepergianmu tak membuatnya kehilangan sedikitpun, mungkin juga tak membuatnya berpikir bahwa dia telah menyia-nyiakan seseorang, bahkan mungkin tak membuatnya sadar bahwa ada sosok yang berkeinginan melihatnya senang meski terbuang.
Tetapi, dengan berat hati kau berusaha tersenyum. Setidaknya, apa yang dia anggap mengganggu kini sudah lenyap dari hidupnya. Apa yang dia paksa menjauh, kini sudah tahu caranya berjalan mundur.
Suatu saat, kau berharap dia tahu;
Bahwa yang paling sabar mencintai akan sanggup memilih pergi. Yang paling cemas akan sanggup untuk ikhlas. Dan yang paling takut kehilangan akan sanggup mengucapkan selamat tinggal jika segala pengorbanan, sudah tidak dihargai.
Katamu, semoga bahagia.
Itu doa terakhirmu untuknya yang tak akan pernah terlantun lagi dalam sujudmu. Doa itu telah kau hapus paksa bersamamu yang telah dia hapus perasaannya.
Gumammu, selamat tidur.
Itu ucapan terakhirmu untuknya, yang tak akan pernah lagi dia dengar pada malam-malam sunyinya. Ucapan yang kadang kau ucapkan untuknya dan kini akan menghilang bersamamu. Ucapan itu akan lenyap bersama dirimu yang dulu dengan bodoh merindukannya sebelum lelapmu.
Hingga akhirnya dia kembali bebas memimpikan segala hal yang dia impi-impikan. Dan kau berjanji padanya, jika suatu saat dia terjaga, akan kau pastikan dirimu sudah tak lagi ada untuknya.
