Langsung ke konten utama

Memilih Menghilang, Agar Dia Tenang

Untuk setiap doa yang kau langitkan di kala malam demi memohon keselamatannya.

Untuk setiap air mata yang jatuh karena terlalu mencemaskan keadaannya.

Untuk setiap sesak di dalam dada karena begitu merindukannya.

Dan untuk setiap ketakutan dalam dirimu karena tak ingin kehilangannya, memohonlah maaf. Sekarang kau akhirnya sampai pada titik berhenti.

Karena selama ini, di hatinya, kau hanyalah seseorang yang tidak memiliki tempat. Kau dipersilahkan masuk, namun sebagai orang asing yang diletakkan di ruangan paling usang, dan hanya akan dia cari ketika semua memilih pergi.

Kau dibiarkan datang, hanya untuk melihatnya hilang dan kau dibiarkan tinggal hanya untuk ditinggalkan.

Betapa kau merasa sulit ketika sadar mencintai seseorang tapi hatinya tak kau ketahui apakah bersemi untukmu atau untuk orang lain. Betapa kesulitan itu menghantuimu ketika kau sadar telah menyayangi seseorang tapi rasa sayangnya tidak kau ketahui apakah tumbuh untukmu atau pada orang lain. 

Seberusaha apapun dirimu ada, tetap ditiadakan. Sekuat apapun kau memperjuangkan tetap berujung pada pengabaian. Setabah apapun bertahan, tetap dipaksa melepaskan.

Erat namun seperti renggang. Kau benar-benar tak sanggup.

Dari hatimu yang terdalam, hingga akhirnya kau memilih undur diri.

Mungkin, kepergianmu tak membuatnya kehilangan sedikitpun, mungkin juga tak membuatnya berpikir bahwa dia telah menyia-nyiakan seseorang, bahkan mungkin tak membuatnya sadar bahwa ada sosok yang berkeinginan melihatnya senang meski terbuang.

Tetapi, dengan berat hati kau berusaha tersenyum. Setidaknya, apa yang dia anggap mengganggu kini sudah lenyap dari hidupnya. Apa yang dia paksa menjauh, kini sudah tahu caranya berjalan mundur.

Suatu saat, kau berharap dia tahu;

Bahwa yang paling sabar mencintai akan sanggup memilih pergi. Yang paling cemas akan sanggup untuk ikhlas. Dan yang paling takut kehilangan akan sanggup mengucapkan selamat tinggal jika segala pengorbanan, sudah tidak dihargai.

Katamu, semoga bahagia.

Itu doa terakhirmu untuknya yang tak akan pernah terlantun lagi dalam sujudmu. Doa itu telah kau hapus paksa bersamamu yang telah dia hapus perasaannya.

Gumammu, selamat tidur.

Itu ucapan terakhirmu untuknya, yang tak akan pernah lagi dia dengar  pada malam-malam sunyinya. Ucapan yang kadang kau ucapkan untuknya dan kini akan menghilang bersamamu. Ucapan itu akan lenyap bersama dirimu yang dulu dengan bodoh merindukannya sebelum lelapmu.

Hingga akhirnya dia kembali bebas memimpikan segala hal yang dia impi-impikan. Dan kau berjanji padanya,  jika suatu saat dia terjaga, akan kau pastikan dirimu sudah tak lagi ada untuknya.

Postingan populer dari blog ini

Sisi Lain Kebahagian

Terkadang, orang mengira bahwa kau bahagia. Dan kau berusaha meng-aminkan. Padahal, kau hanya merasa bahagia ketika sedang bersama teman-teman, ketika kau dan mereka saling melempar lelucon yang membuat kalian sampai menutup mulut karena tertawa dengan lelucon yang baru saja dibuat oleh seseorang.  Kau selalu menjadi yang paling antusias menceritakan hal-hal absurd pada kawanmu. Hingga mereka menganggap bahwa kau adalah seorang yang periang, yang dipenuhi energi positif, dan yang selalu bahagia. Padahal, disaat hari berubah menjadi malam dan disaat kau sendiri, senyum riangmu berubah menjadi masam. Tawamu berubah jadi kesedihan yang tak dapat dijelaskan. Kau berbaring di tempat tidurmu, merebahkan diri dan memikirkan semua hal yang ingin kau katakan. Semua hal yang harus kau akui meski hanya dengan pena, kertas, dan pikiran. Kau bertengkar dan marah dengan pikiranmu sendiri. Memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi. Membayangkan semua skenario terburuk yang selalu menghantui ota...

Bukan Rumah

https://www.deviantart.com/bombshell-claire/art/Broken-Home-751158620 Beberapa anak yang tumbuh dalam keluarga patah, mendefinisikan rumah yang katanya sebagai tempat paling nyaman, aman dan tentram hanyalah sebuah omong kosong. Sebaliknya, bagi mereka yang hampir tiap hari menyaksikan gemelut konflik, percek-cokan, dan kekerasan di dalamnya, menganggap rumah sebagai tempat ramai namun mengerikan. Di dalamnya tersimpan jutaan kehampaan, kesedihan, ketidaknyamanan, serta kegelisahan. Seolah rumah tidak menjalankan fungsinya dengan baik. Ruang keluarga yang normalnya difungsikan sebagai tempat menghabiskan waktu bersama, bercengkrama dan bersenda-gurau antar-anggota keluarga dengan suguhan-suguhan random pada layar televisi, sayangnya beralih fungsi sebagai tempat saling mengumpat dan beradu argumen dengan nuansa yang mencekam.  Ruang makan yang biasanya dimanfaatkan anggota keluarga untuk berbagi cerita dan hal-hal menyenangkan yang terjadi dihari itu dengan ditemani santapan sederh...

Mengagumi Dalam Diam

Ada satu nama di dalam hatimu, nama yang selalu kau aminkan di setiap sujud terakhirmu, nama yang sangat kau harapkan untuk kau dampingi. Kepada pemilik nama itu, kau mencintai sedalam-dalamnya, namun kau pendam sediam-sediamnya. Kau hanya mampu memperhatikannya dari jarak yang jauh, tanpa berani menyentuh. Ketika dia bahagia, kau pun ikut merasakannya, meski bukan kau yang menjadi alasannya. Ketika dia terluka, kau pun tak pernah rela, meski kau juga begitu pengecut menjadi penawarnya. Saban hari, tak sekalipun kau alpa merindukannya, tak sedikitpun ingatanmu kosong dari bayangnya. Hanya dia, dia, dan dia. Kau mengetahui bahwa dia ialah seseorang yang menyukai puisi, maka setiap kali kau menulis, kau menulis tentangnya. Kau mengetahui bahwa dia ialah seseorang yang menyukai senja, maka setiap kali senja datang menyapa, kau memikirkan wajahnya. Kau mengetahui bahwa dia ialah seseorang yang menyukai hujan, maka setiap kali turun hujan, kau membayangkan kenangan dengannya. Apa yang dirin...