Langsung ke konten utama

Postingan

Salam Kenal!

Halo! Halo, selamat datang di jurnal digitalku. Kamu sampai di sini berarti kamu ingin tahu tentang hidupku. Right? Sebelum melangkah terlalu jauh, aku hanya ingin menyampaikan bahwa ini hanyalah blog biasa. Isinya beraneka ragam, bisa berupa curhatan, umpatan, kekesalan, kesenangan, dan segala hal yang terjadi di hidupku, yang jarang kuceritakan ke orang-orang di sekelilingku. Jika kamu tertarik, silahkan baca bagian apa saja yang kamu inginkan. Namun jika tidak, tombol close ada di pojok kanan atas. Silahkan tutup, dan lanjutkan aktivitasmu. Menulis jurnal pribadi sebenarnya sudah lama aku lakukan, bahkan sejak SD. Alasannya sederhana: "karena tidak punya tempat untuk bercerita". Bagimu menyedihkan? Tidak juga. Aku hanya nyaman dengan menuangkan segala hal yang aku pikirkan lewat tulisan daripada harus membagikannya secara lisan ke orang-orang sekitar. Mungkin kamu mengira bahwa aku pemalu? Entahlah. Aku hanya nyaman dengan diriku sendiri. Aku menganggap bahwa di hidupku ti...
Postingan terbaru

Mungkin Kau Juga Pernah...

Pernah di dalam hatimu dipenuhi keyakinan bahwa seseorang yang selama ini bersamamu dan mendampingimu adalah takdir-Nya untuk hidupmu. Pernah juga kau begitu bersyukur telah dipertemukan dengannya yang kau anggap begitu baik, sampai kau merasa bahwa dia adalah seseorang berbeda yang bisa mengobati luka lamamu. Bahkan kau juga pernah segiat itu memantaskan diri demi untuk duduk bersanding di sebelahnya kelak dalam akad yang penuh harap dan semoga. Hingga kau pernah memohon doa di setiap sujud terakhirmu, agar apa yang kau aminkan adalah apa yang Tuhan izinkan untukmu, yaitu dirinya. Namun nyatanya, harapanmu yang penuh harap sepertinya tidak diharapkan olehnya. Seolah hanya di dalam hatimu saja keyakinan itu penuh, sedang di dalam hatinya terisi keraguan. Hanya kau yang bersyukur atas pertemuan dengannya, sedang dia tak merasakan apapun. Hanya kau yang berusaha memantaskan diri untuknya, sedangkan baginya bukan kau yang pantas mendampinginya. Dan hanya kau yang memohon doa di setiap suj...

Untukmu Lelaki Asing yang Memenuhi Kepalaku

Hai apa kabar? Bagaimana? Masihkah pantas jika aku berucap apa kabar? Meskipun hati terkadang berusaha keras untuk enggan menyapa, karena takut menimbulkan basa-basi yang berujung cerita. Walau sebenarnya lebih takut jika sapaanku kau anggap hanya angin lewat semata. Mungkin kau sudah sangat jauh, tetapi semoga saja tanpa sengaja kau membaca tulisan ini. Halo! Sudah sangat lama kita tidak saling menyapa. Setelah kau memutuskan untuk tidak membalas pesan terakhirku saat itu, akhirnya sampai detik ini aku  tidak berani lagi untuk mengirimimu pesan. Apakah kau tahu sudah berapa paragraf kata yang kurangkai untuk sekadar menyapamu lewat pesan yang ujung-ujungnya tidak pernah kukirim? Bagaimana rasanya setelah kembali asing? Kurasa kau baik-baik saja. Dan sepertinya, kau sedang berbahagia dengan seseorang yang baru di sana. Entahlah, mungkin hanya firasatku saja. Semoga kau selamanya tetap membaik. Aku di sini juga sedang berusaha untuk tetap terlihat baik walau perasaanku masih tertari...

Alasan Sebuah Kepergian

Kenapa aku memilih pergi? Barangkali kau perlu sekali saja menjadi aku. Merasakan bagaimana perihnya menyayangi seseorang yang rasa sayangnya entah masih ada untukku atau tidak. Merasakan bagaimana merindukan seseorang yang rindunya entah masih milikku atau tidak. Merasakan bagaimana mendoakan seseorang yang doanya entah masih berisi pinta agar dibersamakan denganku atau tidak. Dan, yang paling menyakitkan dari semuanya ialah, merasakan bagaimana setiap kali aku melihat kita, aku melihat seolah hanya diriku sendiri yang tetap cinta, sedangkan kau sudah tidak. Karena nyatanya, cintamu tidaklah senyata itu. Karena buktinya, cerita tentang kita hanyalah milikku seorang. Maka, apakah ada yang lebih baik dari sebuah perpisahan? Apakah ada yang lebih baik dari membiarkan aku berjalan menuju keikhlasan, dan membiarkan kau berjalan menuju kebahagiaan? Apakah ada? Aku sempat berpikir untuk mengucapkan terimakasih telah menjadikanku sebagai tempatmu bermain. Walau setelahnya kita kemb...

Dan Lagi...

Setelah pernah begitu patah, kau memutuskan untuk tidak tertarik lagi mencintai siapa pun. Mungkin, karena luka lamamu belum sepenuhnya pulih atau mungkin juga karena kau masih terlalu penakut untuk memilih.  Padahal di hidupmu, banyak sekali yang datang menawarkan hati, tapi pintu yang dulu pernah kau buka masih tertutup serapat-rapatnya, tangan yang dulu pernah begitu lapang menerima masih menggenggam erat masa lalunya.  Hingga akhirnya dia datang menjanjikan tenang, menjanjikan sembuh yang paling kau butuh, menjanjikan harapan yang paling kau harap-harapkan. Membuat kau percaya, bahwa bersamanya mungkin kau akan kembali menemukan bahagia. Namun, terkadang sakit memang tidak hanya sekali, patah hati memang kadang perlu berkali-kali. Setelah se-semoga itu dia dalam doamu, setelah seyakin itu dia dalam aminmu, tiba-tiba semesta berkata lain; Kau harus kembali robek oleh seseorang yang kau percaya mampu menjahit luka-lukamu, kau harus kembali patah oleh seseorang yang kau angga...

Sisi Lain Kebahagian

Terkadang, orang mengira bahwa kau bahagia. Dan kau berusaha meng-aminkan. Padahal, kau hanya merasa bahagia ketika sedang bersama teman-teman, ketika kau dan mereka saling melempar lelucon yang membuat kalian sampai menutup mulut karena tertawa dengan lelucon yang baru saja dibuat oleh seseorang.  Kau selalu menjadi yang paling antusias menceritakan hal-hal absurd pada kawanmu. Hingga mereka menganggap bahwa kau adalah seorang yang periang, yang dipenuhi energi positif, dan yang selalu bahagia. Padahal, disaat hari berubah menjadi malam dan disaat kau sendiri, senyum riangmu berubah menjadi masam. Tawamu berubah jadi kesedihan yang tak dapat dijelaskan. Kau berbaring di tempat tidurmu, merebahkan diri dan memikirkan semua hal yang ingin kau katakan. Semua hal yang harus kau akui meski hanya dengan pena, kertas, dan pikiran. Kau bertengkar dan marah dengan pikiranmu sendiri. Memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi. Membayangkan semua skenario terburuk yang selalu menghantui ota...

Memilih Menghilang, Agar Dia Tenang

Untuk setiap doa yang kau langitkan di kala malam demi memohon keselamatannya. Untuk setiap air mata yang jatuh karena terlalu mencemaskan keadaannya. Untuk setiap sesak di dalam dada karena begitu merindukannya. Dan untuk setiap ketakutan dalam dirimu karena tak ingin kehilangannya, memohonlah maaf. Sekarang kau akhirnya sampai pada titik berhenti. Karena selama ini, di hatinya, kau hanyalah seseorang yang tidak memiliki tempat. Kau dipersilahkan masuk, namun sebagai orang asing yang diletakkan di ruangan paling usang, dan hanya akan dia cari ketika semua memilih pergi. Kau dibiarkan datang, hanya untuk melihatnya hilang dan kau dibiarkan tinggal hanya untuk ditinggalkan. Betapa kau merasa sulit ketika sadar mencintai seseorang tapi hatinya tak kau ketahui apakah bersemi untukmu atau untuk orang lain. Betapa kesulitan itu menghantuimu ketika kau sadar telah menyayangi seseorang tapi rasa sayangnya tidak kau ketahui apakah tumbuh untukmu atau pada orang lain.  Seberusaha apapun dir...

Dinamika Hidup Dalam Kemiskinan

  https://pxhere.com/id/photo/129939 Yang orang kaya tidak pernah tahu tentang hidup di dalam kemiskinan.  Kemiskinan yang kau miliki seringkali bukan akibat ke-tidak-mampuan/ke-tidak-kompeten-anmu. Kemiskinan yang kau miliki juga seringkali bukan karena kebodohanmu, melainkan ketiadaan kesempatan untuk belajar dalam kondisi yang layak serta mal-nutrisi yang membuat kecerdasanmu dalam taraf tertentu tidak optimal. Kemiskinan yang kau miliki seringkali bukan karena kemalasanmu, tapi karena orang tuamu yang mewariskan ke-pesimis-an mereka akan masa depan kepadamu. Mereka tidak akan pernah tahu, bahwa kemiskinan itu sifatnya struktural dan juga bisa diturunkan. Orang tuamu yang kerap rentan terhadap percekcokan karena masalah ekonomi seringkali memengaruhi perkembangan otakmu terutama dalam meregulasi dan mengekspresikan emosi.  Terlalu sering melihat orang tuamu berkonflik dan memarahimu akan membuat dirimu menjadi pribadi yang sangat defensif dan dianggap tidak menyenangka...

Teruntuk Siapapun yang Memilih Berpisah Padahal Langkah Kaki Masih Searah

Terkadang, ada yang tiba-tiba tergenang di ujung mata setiap kali terlintas bayang-bayang seseorang, ada yang tiba-tiba terasa sesak di dalam dada setiap kali terkenang sosok seseorang.  Tentang dia yang dulu pernah mengisi hari-hari, namun kini kabarnya sudah tidak terdengar lagi.  Tentang dia yang dulu pernah menjadi teman bercerita, namun kini hanya tinggal cerita. Tentang dia yang dulu pernah berjalan beriringan, namun kini tak lagi satu tujuan. Padahal, perginya sudah sejauh itu.  Padahal, hilangnya sudah selama itu. Namun, melupakannya tetap tidak semudah itu. Tak apa, seikhlas apapun seseorang pasti akan ada saatnya di mana ia tak mampu menahan rindu datang menyapa, setabah apapun seseorang pasti akan ada saatnya di mana ia rapuh diusik kenangannya. Menangislah, jika itu melegakan. Berdoalah, mintalah dikuatkan. Kau sadar kenapa bagimu dirinya begitu berarti, kenapa bagimu dirinya tak bisa terganti. Karena, selain dirinya yang paling banyak merekatkan cerita dalam ...

Bukan Rumah

https://www.deviantart.com/bombshell-claire/art/Broken-Home-751158620 Beberapa anak yang tumbuh dalam keluarga patah, mendefinisikan rumah yang katanya sebagai tempat paling nyaman, aman dan tentram hanyalah sebuah omong kosong. Sebaliknya, bagi mereka yang hampir tiap hari menyaksikan gemelut konflik, percek-cokan, dan kekerasan di dalamnya, menganggap rumah sebagai tempat ramai namun mengerikan. Di dalamnya tersimpan jutaan kehampaan, kesedihan, ketidaknyamanan, serta kegelisahan. Seolah rumah tidak menjalankan fungsinya dengan baik. Ruang keluarga yang normalnya difungsikan sebagai tempat menghabiskan waktu bersama, bercengkrama dan bersenda-gurau antar-anggota keluarga dengan suguhan-suguhan random pada layar televisi, sayangnya beralih fungsi sebagai tempat saling mengumpat dan beradu argumen dengan nuansa yang mencekam.  Ruang makan yang biasanya dimanfaatkan anggota keluarga untuk berbagi cerita dan hal-hal menyenangkan yang terjadi dihari itu dengan ditemani santapan sederh...

Mengejar Untuk Berhenti

  Sebelum akhirnya dirimu dipaksa berhenti mengharapkannya, sebelum akhirnya kau dipaksa memindahkan haluan juangmu dan sebelum akhirnya kau dipaksa merelakan seluruhnya, pernah ada sepotong kalimat yang kau ucapkan ketika dia berjalan memunggungimu, ketika kau melepaskannya dengan segala keterpaksaan, dulu.  Di hidupmu, dia pernah menjadi alasan kau menengadahkan tangan lebih tinggi dan bersujud lebih lama karena begitu berharap agar Tuhan mempersatukan kalian. Dia pernah menjadi alasanmu berusaha lebih giat dan berjuang lebih keras karena begitu ingin menjadi cukup di hadapannya. Dia pernah menjadi alasanmu tak peduli pada air matamu sendiri karena begitu ingin melihatnya tersenyum. Tapi, dia tak pernah memedulikanmu. Dia terlalu sibuk menyusun rencana untuk membersamai seseorang yang jelas-jelas mengabaikannya sekarang. Dia terlalu kencang berlari mengejar seseorang yang sekarang sudah tak ingin didapatkan olehnya. Dia terlalu erat berpegangan pada tangan seseorang yang bah...

Teruntuk Jodohku di Masa Depan

Hai apa kabar? Teruntuk kau yang suatu saat akan menjadi pendamping hidupku. Banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan kepadamu. Seperti sedang apa kau sekarang? Bagaimana sekolah atau kuliahmu? Atau kau mungkin sudah bekerja? Atau kau malah belum lahir? Atau kau bahkan dari belahan dunia lain yang tidak memahami bahasa tulisanku ini? Tidak masalah. Yang penting aku sudah menuliskanya. Urusan terbaca atau tidak, itu urusan belakangan. Bukankah sesuatu yang dilakukan dengan tulus, tidak harus menerima balasan? Begitu kata orang bijak. Saat aku menulis ini, usiaku baru memasuki 20 tahun. Usia yang katanya merupakan titik dimana kita mulai bertemu dan menghadapi kehidupan yang sesungguhnya. Usia dimana kita mulai memikirkan banyak hal. Tentang bagaimana kehidupan kita kelak atau bahkan siapa jodoh kita nanti.  Aku menulis ini dengan sadar, dan ingin berpesan kepadamu, yang suatu saat akan menjadi takdir untuk hidupku. Mungkin saat ini, kau sedang menempuh perjalanan panjang untuk mene...

Cerita Itu Untukmu

Mungkin kau pernah berada pada titik di mana kau tidak tahu lagi harus berbuat apa karena terlalu merindukan seseorang. Memasrahkan diri, menjatuhkan air mata, menyebut namanya dengan lirih dalam doa-doa penuh semoga. Kepada-Nya, kau memohon agar bisa menatapnya walau dari kejauhan. Memastikan apakah dirinya dijaga oleh seseorang yang tepat. Kau tak apa bila tidak bersama lagi, kau tak apa bila sudah terganti, kau tak apa dan kau baik-baik saja. Asal bahagia bisa selalu kekal di hidupnya, asal senyumnya bisa lebih indah dari di saat dia bersamamu. Walaupun kau mengutuk dirimu. Kau menyalahkan dirimu. Kau menyesali dirimu sendiri. Dulu, dia pernah mengatakan bahwa dia begitu mengagumi senja, maka kau menuliskan sebuah cerita, dan kau sematkan kata Senja di dalamnya, dan kau ceritakan segala tentangnya di sana. Agar ketika senja di langit telah pergi diam-diam, ada satu senja yang tak mengerti caranya tenggelam. Kau berharap bisa selalu menemaninya, tak kenal waktu. Walaupun sebenarnya k...

Ikhlas Itu Sulit

Untuk sepasang raga yang saat ini masih berjalan berdampingan, untuk sepasang tangan yang saat ini masih saling bergenggaman, dan untuk sepasang hati yang saat ini masih dipenuhi keyakinan untuk selamanya bertahan; berdoalah, semoga semua berakhir indah, semoga harapan-harapan tidak berujung patah. Namun, bila ternyata tetap bermuara pada pisah, bila ternyata tetap harus menutup kisah, pun berdoalah, semoga sama-sama diberi tabah. Memang, tak pernah ada yang sederhana dari sebuah kehilangan. Selalu menyisakan banyak tangis, rasa sakit, dan rindu yang begitu pahit, terlebih di saat mengingat semua kenangan yang membuat dada semakin seolah tersayat. Pernah, ketika dirimu merasa sedih dia yang selalu ada menjadi sudahnya, meredakan air mata hingga dirimu tersenyum dan baik-baik saja. Ketika dirimu merasa bingung dia yang selalu ada menjadi tempat bercerita, memberikan lega hingga dirimu tak lagi resah. Ketika dirimu merasa lelah bahkan tanpa diminta, dia yang selalu ada menyediakan pundak...

Mengagumi Dalam Diam

Ada satu nama di dalam hatimu, nama yang selalu kau aminkan di setiap sujud terakhirmu, nama yang sangat kau harapkan untuk kau dampingi. Kepada pemilik nama itu, kau mencintai sedalam-dalamnya, namun kau pendam sediam-sediamnya. Kau hanya mampu memperhatikannya dari jarak yang jauh, tanpa berani menyentuh. Ketika dia bahagia, kau pun ikut merasakannya, meski bukan kau yang menjadi alasannya. Ketika dia terluka, kau pun tak pernah rela, meski kau juga begitu pengecut menjadi penawarnya. Saban hari, tak sekalipun kau alpa merindukannya, tak sedikitpun ingatanmu kosong dari bayangnya. Hanya dia, dia, dan dia. Kau mengetahui bahwa dia ialah seseorang yang menyukai puisi, maka setiap kali kau menulis, kau menulis tentangnya. Kau mengetahui bahwa dia ialah seseorang yang menyukai senja, maka setiap kali senja datang menyapa, kau memikirkan wajahnya. Kau mengetahui bahwa dia ialah seseorang yang menyukai hujan, maka setiap kali turun hujan, kau membayangkan kenangan dengannya. Apa yang dirin...